Pengumuman

Untuk memudahkan bagi anda yang membutuhkan jurnal/buku/procedding Ekonomi Syariah, berbentuk pdf, bisa menghubungi Perpustakaan STIE Bisnis Indonesia (STIE BI) Ciputat, Telp. 021-7423390, 7423391 Ext. 101, email:stiebiciputat@yahoo.co.id, dengan Okta/Siti

Rabu, 02 Maret 2016

Takut


Malam ini dikelas ekonomi Islam, sy bertanya ke mahasiswa, kenapa mahasiswa kalau mau ujian, datang tepat waktu, bahkan sebelum waktunya sudah bersiap2 didepan kelas, agar bisa masuk kelas ujian tepat waktu?
Banyak jawaban mahasiswa, ...krn takut telat pak....krn kalau terlambat, nanti ngak bisa ikut ujian pak, sia2 perjuangan belajar satu semester, bisa dapat nilai E dan harus mengulang lagi....ada juga yg jawab, takut dgn pengawas ujian pak...dan macam2 jawaban mahasiswa.
Begitulah takutnya kita pd manusia dan sistim yg dibuatnya.
Lantas, pertanyaan lain sy ajukan:
Kalau adzan berkumandang, pertanda ajakan sholat, apakah kita datang tepat waktu, atau datang beberapa menit sebelumnya, atau menunggu2 di depan pintu masjid untuk bersegera sholat?
Sebagian mahasiswa tersenyum, sebagian seperti bingung, diam....😊😥😂😍
Mengapa kita seolah2 lebih takut pd manusia dan sistem yg dibuatnya, daripada ajakan Allah?
Datang tepat waktu, bahkan lebih cepat untuk ujian itu adalah baik dan benar. Dan kita tambahkan datang lebih awal dan tepat waktu untuk pangilan Allah adalah kewajiban yg harus sangat diperhatikan. Bukankah nafas kita berada dalam gengaman Allah, apapun yg terjadi terhadap kita jg diketahui Allah...dan kita juga meminta kepada Allah, maka jangan abaikan panggilan Allah, agar permintaan kita jg lebih cepat dikabulkan, termasuk keinginannya mhs untuk dpt nilai A dan lulus tepat waktu.
Maka takutlah pada Allah, meminta dan berharaplah pada Allah.....
‪#‎seketika‬ adzan isya berkumandang, kelas saya hanya berjarak 50m dari masjid, sy menghentikan sementara kuliah, dan ke masjid untuk sholat isya....
Malam ini, mahasiswa yg sholat isya berjamaah di masjid...dari kelas saya lebih banyak dari biasanya....
Alhamdulillah...semoga persisten ya...trus ngajak yg masih lengket di kursinya 😊
Jahar
Cirendeu, Ciputat, 12 feb 16.

Selasa, 23 Juni 2015

2 bekal pengusaha sukses.

Oleh: Jaharuddin*
Beberapa hari ini saya diskusi dengan mahasiswa tentang entrepreneurship, juga bertemu dan diskusi dengan komunitas pengusaha. Dari diskusi tersebut saya mengambil pelajaran, ada 2 bekal pengusaha yang saling menopang, yaitu:

1. Bekal fundamental.
Ini merupakan bekal utama bagi pengusaha, yaitu me re fresh keyakinan bahwa rizki itu adalah dari Allah SWT. Karenanya yg dilakukan adalah berusaha maksimal untuk memantaskan diri bahwa, sudah saatnya dicurahkan limpahan rezeki yang melimpah melalui usahanya. Yakinilah bahwa Allah tidak akan salah memberikan rezeki pada tempat dan saat yg tepat.

Maka tugas kita adalah mendekatkan diri dengan panduan Allah SWT. Berbentuk selalu memperbaiki kuantitas dan kualitas ibadah kita. Tuntaskan yang wajib tambah sunnah dan ibadah unggulan lainnya.
Rutinkan sholat diawal waktu berjamaah, tingkatkan kualitas hubungan dengan ayah dan bunda, dhuha, taubat, qiyamulail, membaca Al-Quran, dzikir pagi dan sore, shilaturahim, dll.

Di kuliah Islamic entrepreneurship yang saya ampu, diawal perkuliahan saya sampaikan makna tauhidullah sebagai fondasi pengusaha muslim. Sehingga calon pengusaha muslim menjadikan tauhidullah sbg fondasi membangun usaha.

Lantas kalau ada case, pengusaha kaya raya namun masih bergelimang maksiat, sepertinya usahanya tetap aja maju, ini bukti rahmannya Allah robb semesta alam, dia memberikan rezeki kepada semua makhluknya, termasuk binatang jelata sekalipun. Ini juga memperkuat keyakinan bahwa Allah SWT pasti menolong hambanya yg berikhtiar baik dan benar di jalan-Nya.

Ketika bertemu pengusaha sukses, belajarlah darinya bekal spritual yg rutin dan konsisten dilakukan, lantas tiru dan modifikasi sesuai kebutuhan kita. Semisal ada pengusaha yang mentargetkan 10% omzetnya untuk sedekah, adapula pengusaha mempunyai target sedekah Rp. 1jt perhari, bisa pula target zakat, ada pula pengusaha yang mensedekahkan seluruh omzet hari kamisnya pada hari berikutnya yaitu hari Jum'at berkah, dll.

2. Bekal Teknikal.
Bekal teknikal adalah bekal selanjutnya yg melengkapi bekal fundamental. Bentuknya adalah pengetahuan yg benar dan dalam seputar teknik meng create produk yg unik, teknik menjual, teknik promosi, teknik negosiasi, teknik marketing, keuangan, manajemen, dll.

Seringkali sebagian kita fokus dibekal teknikal ini, tidak salah, namun kurang sempurna jika tidak dialaskan bekal fundamental. Karena kita belajar pemasaran, teori promosi, mencari tempat strategis, membuat produk dan harga yg tepat. Pada akhirnya faktor apa sesungguhnya yg menuntun kaki, mata, kehendak, hati pelanggan kita untuk sampai ke tempat dan produk kita, dan mengeksekusi produk kita yg digunakan. Bagi kita yg beriman sadarilah bahwa ada campur tangan Allah SWT dalam itu semua.

Jadi belajar teknikal sebaik mungkin adalah baik, namun yakinlah ada campur tangan Allah dalam setiap keputusan pelanggan kita.

Selanjutnya istiqomah (persisten) menjalankan usaha, jika jatuh bangun lagi......jatuh bangun lagi....sampai sukses di gengaman kita. Aamiin.
Semoga bermanfaat.
*staf pengajar Ekonomi Islam FE UMJ, Founder STIE Bisnis Indonesia (STIE BI) Ciputat, twitter @stiebiciputat

Rabu, 07 Januari 2015

Mindset Pengusaha sukses

Serial: Islamic Entrepreneurship
Oleh : Jaharuddin
Salah satu faktor penting yang menghantarkan kesuksesan adalah mindset (pola fikir). Mindset akan menjadi daya dorong internal yang tak tertandingi dalam mempengaruhi perasaan dengan terminal tindakan spektakuler. Sebagai contoh sikap "you can, if you think you can" . Ketika mindset positif, maka perasaan, tindakan akan mendorong sifat positif, yang pada akhirnya impian positif anda akan terwujud, begitupula sebaliknya.
Kesuksesesan, adalah keniscayaan jika bersungguh-sungguh. Raba rasakanlah diri kita masing, masing sejauh mana mindset sukses sudah ada dalam genetik kita, karenanya memahami mindset pengusaha sukses menjadi penting, yang selalu harus ditumbuhkan pada setiap jiwa pengusaha. Mindset ini menjadi mendasar dalam mendorong kesuksesan, sama pentingnya dengan uang yang kebanyakan orang memahaminya sebagai modal utama.
Saya mengatakan uang bukan faktor utama, uang hanya faktor pelengkap, karena dalam kenyataannya, uang bertebaran disekeliling kita, jika kita mempunyai mindset yang baik dalam membangun usaha. Mindset yang perlu ditumbuhkan, dipelihara, dan ditingkatkan oleh pengusaha dan calon pengusaha, adalah:
1. Percaya Diri
Perbanyaklah alasan, kenapa setiap muslim yang menjadi pengusaha perlu percaya diri, pelajarilah sejarah Islam, anda akan menemukan Rasulullah adalah pengusaha, sahabat-sahabat utama adalah pengusaha, dan mereka menjadi penopang tegaknya dakwah Islam.
2. Berorientasi pada prestasi
Jangan hanya menjadi orang kebanyakan, result oriented lah, dengan prestasi, jangan merasa cukup dangan biasa-biasa saja. sadari umur kita terus bertambah, bisa jadi pencapaian prestasi sebagian orang dengan umur yang sama dengan kita jauh lebih tinggi, maka fokus pada potensi anda, dan berorientasi prestasi.
3. Berani mengambil resiko
Setiap langkah besar, dihadapkan dengan resiko yang tidak kecil, maka belajarlah mitigasi resiko, sebelum melangkah petakan resikonya, setelah diras cukup, melangkahlah dengan yakin, walaupun bisa jadi muncul resiko yang tidak terkalkulasi sebelumnya. dan itu biasa, terus bergerak sambil menikmati resiko dari sebuah tindakan. Jadikan resiko seperti anda menikmati kopi kesayangan anda, kelihatanya pekat, namun jika dinikmati, menjadi mengasyikkan.
4. Kreatif dan Innovatif
5. Ulet dan tekun
kedua faktor diatas, menjadi penting karena, mental yang baik, juga diikuti teknis yang juga baik, maka kreatifitas, inovatif, ulket dan tekun menjadi penopang keberhasiulan.

Untuk membuat Seorang pengusaha mempunyai daya juang yang tinggi dalam mengapai kesuksesan tips berikut bisa menjadi referensi, yang disederhanakan menjadai 5D, yaitu:
1. Dream
Seorang pengusaha yang sukses memiliki impian dan visi yang jelas tentang masa depan bisnisnya. Salah satu cara yang diajurkan agar fisik anda tergerak mencapai impian, bukan mimpi ya:), apalagi utopia, adalah gambaran yang detil terhadap bisnis anda ketika sukses, walaupun saat ini anda baru memulai. Ketika anda sedang membangun kampus misalnya, maka anda bisa membayarngkan berapa jumlah mahasiswa anda saat  sukses, bagaimana kondisi keramaian kampus anda saat itu, berapa jumlah karyawan anda, bagaimana pendidikan tenga pengajar anda, seperti apa gedungnya, seperti apa ruang anda sendiri, kendaraan anda, staf andi...gambarkan dengan detil. walaupun saat ini anda masih menempati gedung sewa, masih kecil, dana terbatas, dan tantangan lainnya. Impian tersebut akan mendorong anda untuk bergerak, terus menghalau tantangan, sampai impian itu terwujud. 
2. Decisiveness
Seorang pengusaha yang sukses memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan (decisiveness) secara akurat, penuh perhitungan dan tidak lamban. Tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

"making decision is a fundamental life skill"

apapun profesi kita, apalagi seorang pengusaha mengambil keputusan adalah ketrampilan mendasar yang harus kita miliki.  karena setiap saat kita mengambil keputusan, suka maupun tidak. maka sebagai seorang pengusaha belajarlah teori-teori pengambilan keputusan, seringlah berlatih, asah keberanian, dan putuskan dengan cepat dengan pertimbangan yang matang.
cukup sederhana teorinya, namun dalam prakteknya biasanya tidak sesederhana itu. kiat utamanya adalah berlatih.
3. Doers
Setelah mengambil keputusan dengan matang, maka seorang pengusaha akan segera menindak lanjutinya dengan tindakan (Doers yang cepat dan terukur, jauhi not action, talk only. Seperti yang diuraikan diatas, maka mengeksekusi sesuatu adalah bagian penting dalam diri seorang pengusaha, semakin tinggi jam terbang, semakin banyak variabel yang ditimbang, dan secara sadar akan mendorong keputusan menjadi lambat, namun disinilah tantangannya seorang pengusaha, banyak yang perlu ditimbang, namum keputusan harus cepat dan tepat, baik waktu maupun biaya.
4. Determination
Seorang pengusaha melaksanakan bisnisnya dengan penuh perhatian. rasa tanggung jawab selalu mewarnai setiap langkahnya, tidak mudah menyerah, walaupun tantangan semakin banyak dan besar.
Sudah menjadi hukum alam, jika anda ingin berkembang dan maju, maka tantangannya akan semakin banyak dan besar, maka ketika anda mencanangkan diri untuk menjadi pengusaha, sadarilah dari awal, anada bisa sukses, dengan impian anda, namun ada harga dari kesuksesan tersebut yang tidak kalah mahalnya.
artinya, setiap kesuksesan selalu dikuti pengorbanan yang melampaui batas pengerobanan orang kebanyakan. jadi anda mau sukses, siap pula untuk berkorban lebih dari orang lain.
5. Dedication
Seorang pengusaha memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan dan bisnisnya. Ciri dedikasi adalah pengorbanan lebih, untuk bisnisnya. seperti saat orang lain belum bekerja, seorang pengusaha sudah bekerja, saat orang lain telah lelah dan berhenti bekerja, seorang pengusaha masih semangat dan merasa fresh untuk bekerja.

Kesannya, buat capek ya :), ...menurut saya benar..namun mindset yang seperti itulah yang akhirnya menghantarkan anda, berbeda kesuksesannya daripada kebanyakan orang. selamat mencob, dan semoga bermanfaat.

terinspirasi dari slide Yodia Antariksa, seputar entrepreneurship, dan juga bahan-bahan pengajaran Islamic Entrepreneurship FE UMJ, diramu dari ruang akademik STIE Bisnis Indonesia Ciputat

Senin, 10 Juni 2013

Tips Mengidentifikasi Bisnis Halal atau Tidak

Serial: Islamic Entrepreneurship
Oleh: Jaharuddin
Beberapa kali, saya mendapatkan pertanyaan seputar, bagaimana menentukan suatu usaha tersebut dibolehkan dalam Islam, atau tidak. Paling baru kemarin siang, saya mengisi acara kajian muslimah di Wisma Indonesia Hamburg, Jerman. 
Setelah kajian, muncul pertanyaan dari seorang bapak muda, tentang seputar ini. Walaupun bapak-bapak diforum ini hanya ada 5 orang, sambil santai makan, kita diskusi cukup menarik. Akhirnya saya terfikir bahwa pertanyaan ini juga akan banyak ditanyakan oleh orang-orang lainnya,yang mengindikasikan bahwa tidak ada penolakan sama sekali terhadap ekonomi berbasiskan Islam, namun masyarakat butuh penjelasan yang lebih gamblang dan jelas, kaidah-kaidah berbisnis dalam Islam.
Sehari sebelumnya di kota Braunschweig, saya juga membawakan materi Islamic entrepreneurship, nah salah satu slidenya tentang ini, berikut saya paparkan satu persatu.
3 kaidah dasar yang membantu kita dalam mengidentifikasi suatu bisnis tersebut complain to sharia atau tidak adalah:
1. Dari Zatnya
Bisnis atau usaha ini menjadi haram karena zat dari produk yang diproduksi, diperjual belikan adalah zat yang jelas keharamannya dalam al Qur'an, seperti:
(1). Babi. Pemanfaatan babi hukumnya haram, baik atas daging, lemak maupun bagian-bagian lainnya. Firman Allah dalam QS Al-Maidah (5): 3 mengharamkan konsumsi bangkai darah dan daging babi. Demikian juga dengan firmannya dalam QS  Al-An'am (6):145 dan An-Nahl (16):115. Dalil-dalil dalam ayat ini merupakan nash yang jelas, yang menegaskan tentang keharaman, antara lain mengkonsumsi babi. Al Qur'an mengunakan kata lakhma (daging) karena sebagian besar pengambilan manfaat dari babi adalah dagingnya. Selain itu dalam setiap daging babi selalu terdapat lemak, kendati al Qur'an mengunakan kata lakhma, pengharaman daging bukan hanya dagingnya. Tetapi seluruh tubuh dari babi. Pandangan ini sesuai dengan kaidah ushul fikih min dzikril juz'i wa iradati'l kulli (yang disebutkan sebagian yang dikehendaki seluruhnya. (Aisyah Girindra).
(2). Khamr.
Dari Aisyah ra ketika turun ayat-ayat akhir surat al baqarah (tentang haramnya khamr), Nabi Muhammad SAW keluar kemudian bersabda "Perdagangan khamr telah diharamkan" (HR Bukhari No. 2226).
(3). Bangkai.

(4). Darah.
Yang dimaksud dengan darah dalam kontek ini adalah darah yang disebut 'dideh' (dikumpulkan dari hasil penyembelihan hewan lalu diolah), dan juga darah untuk transfusi (donor darah). Hadist yang menjadi rujukan adalah hadist dikatakan Abu Juhaifah "Rasulullah SAW melarang hasil penjualan darah, hasil penjualan anjing dan upah budak wanita (dari berzina). Beliau juga melaknat orang yang mentato dan orang yang ditato, memakan riba dan menyerahkannya (nasabah) begitu juga tukang gambar (makhluk yang memiliki ruh". (HR Bukhari, No. 2238).
2. Dari Bukan Zatnya
Suatu Bisnis atau usaha juga bisa menjadi haram, karena bukan zatnya. ada 6 praktek perdagangan yang tidak dibolehkan dalam Islam, yaitu:
(1). Riba.
Penambahan tanpa adanya iwadh (underline asset), atau premi yang harus dibayar si peminjam kepada pemberi pinjaman bersama dengan pinjaman pokok yang disyaratkan sejak awal. Penambahan dari pokok itu disyaratkan karena adanya nasi'ah (penangguhan).
(2). Tadlis (Penipuan)
Tadlis bisa terjadi pada sisi Kuantitas, seperti mengurangi takaran. juga bisa terjadi dari sisi kualitas seperti menyembunyikan cacatnya produk. Tadlis juga bisa terjadi dari sisi harga, dengan cara memanfaatkan ketidak tahuan pembeli terhadap harga pasar. dan juga bisa terjadi dari sisi waktu, yaitu menyanggupi delivery time yang sedari awal sudah diketahui tidak akan sanggup memenuhinya.
(3). Gharar (ketidak jelasan yang diaalami baik produsen maupun konsumen)
 Gharar bisa terjadi, pada sisi kuantitas seperti praktek jual beli ijon, juga bisa terjadi dari sisi kualitas seperti jual beli anak sapi yang masih dalam perut induknya. Gharar juga bisa terjadi dari sisi harga contohnya terjadinya dua harga dalam satu akad, dan juga bisa terjadi dari sisi waktu, sebagai contoh jual beli motor yang hilang (delivery time tidak jelas bagi kedua belah pihak).
(4). Ihtikar (penimbunan). Ulama bersepakat penimbunan adalah usaha yang bathil jika dilakukan pada barang kebutuhan pokok, dan spekulasi yang dampaknya menganggu harga pasar, sosial dan ekonomi.
(5). Bay Najasy. adalah memuji barang dagangan padahal palsu dan menipu.
(6). Talaqi Rukban. yaitu kegiatan pedagang dengan cara menyongsong pedagang desa yang membawa barang dagangan di jalan (menuju pasar). Substansi dari larangan talaqi rukban ini adalah tidak adilnya tindakan yang dilakukan oleh pedagang kota yang tidak menginformasikan harga yang sesungguhnya yang terjadi dipasar, walaupun Islam tidak melarang mencari barang dengan harga lebih murah.
3. Dari Akadnya.
Dan yang terakhir, suatu usaha bisa dikategorikan menjadi bathil, jika akadnya tidak sah. seperti terjadinya : (1). Ta'aluq. Ta'aluq terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan, dimana berlakunya akad 1 tergantung pada akad 2. Contoh: si A menjual barang X seharga Rp. 120 juta secara cicilan kepada B, dengan syarat bahwa B harus kembali menjual barang X tersebut kepada A secara tunai seharga Rp. 100 juta.
(2). Terjadi 2 in 1 (Dalam satu akad ada dua kondisi yang berbeda), contohnya ???
(3). Bay al Inah (menjual milik orang lain)
(4). Mulamasah. adalah penjualan kain tanpa dilihat, tetapi diraba-raba saja sehingga terjadi keharusan jual beli.
(5). Muzabanah. adalah pembayaran yang besar (borongan) seakan-akan setiap orang dari para pembeli membayar yang lain dari (harga) yang sebenarnya atau jual beli borongan tanpa mengetahui takaran dan timbangannya. Dan Ibn Umar mentafsirkannya seperti apa yang telah diriwayatkan oleh Malik dengan jual beli kurma basah yang ditakar dengan takaran kurma kering dan jual beli anggur basah yang ditakar dengan takaran anggur kering (diriwayatkan oleh Syafi'i).

Memang, Tips ini belum menjawab semua pertanyaan seputar identifikasi bisnis halal ataupun haram, untuk itu dibutuhkan explorasi lebih dalam yang terkait dengan operasionalisasi yang terjadi di internal suatu usaha, sebagai contoh untuk perbankan syariah tidak diperbolehkan menyalurkan pendanaan ke industri rokok, industri senjata, dll. Untuk itu diperlukan dewan syariah yang mengawasi jalannya usaha, agar benar-benar terjaga dari kehalalan bisnis yang digeluti.
Tips diatas paling tidak bisa membantu mengidentifikasi, dan merupakan pokok-pokok yang disepakati oleh ulama keharamannya, yang bisa dijadikan panduan bagi usaha anda.
Referensi: Agustianto, Perdagangan dalam Islam (bahan kuliah tafsir ayat dan Hadist Ekonomi), dan referensi lainnya.

Selasa, 28 Mei 2013

Tips Membangun Usaha

Serial : Islamic Entrepreneurship
Oleh: Jaharuddin
Data menunjukkan bahwa, Indonesia saat ini merupakan negara primadona untuk investasi, didasarkan faktor-fakto berikut: (1).  Penduduk nomor 4 terbesar di dunia. (2). Negara nomor 3 demokrasi terbesar. (3). Ekonomi nomor 16 di dunia dan masuk G20. (4). 60% Penduduk Indonesia berusia dibawah 30 tahun. (5). Pertumbuhan ekonomi 6% pertahun

Data tersebut sangat mendukung tumbuh suburnya usaha dan sekaligus pasar yang sangat menjanjikan, penduduk nomor 4 terbesar didunia memberi peluang untuk memasarkan produk secara luas dan massal, pasar domestik saja sudah sangat besar. Demokratisasi memberikan peluang perbaikan secara bertahap. Data demografi menunjukkan sebagian besar penduduk pada usia muda dan produktif, memberikan peluang tumbuhnya kebutuhan kelompok muda terhadap berbagai produk, kelompok muda ini akan bekerja, berpenghasilan, menikah, butuh rumah, punya anak, butuh kendaraan, membutuhkan sekolah berkwalitas tinggi untuk anak-anaknya. Saat yang sama ekonomi tumbuh jauh di atas negara maju, ini memberi arti bahwa generasi muda, secara bertahap akan mempunyai daya beli yang menjanjikan.

Tidak aneh, beberapa merk international, tidak akan membiarkan peluang ini berlalu begitu saja, sebagai contoh Air Asia saat ini menjadikan Indonesia sebagai kantor pusatnya. Bahwasanya ada hiruk pikuk politik lokal dan nasional, serta pemberitaan media yang tidak positif terhadap bangsanya sendiri, adalah bagian dari proses domokratisasi yang dulu terlalu lama dikungkung oleh orde baru. Secara bertahap demokratisasi tersebut, akan sampai pada equibilirium baru, sehingga akan lebih baik, dan saat yang sama, akan muncul kesadaran bahwa cara-cara media mengkuliti bangsanya sendiri secara berlebihan, akan membuat jenuh dan letih masyarakat, dan mulailah muncul kesadaran secara kolektif untuk berbenah, kearah yang lebih mencerdaskan.

Nah, jangan sampai usahawan lokal mengabaikan potensi ini, termasuk bagi anda calon, serta usahawan pemula, kinilah saatnya anda mulai masuk dan serius menjadi pengusaha, karena pasar Indonesia sangat menjanjikan, generasi usia muda akan tumbuh dan membutuhkan banyak kebutuhan, dan ini peluang!. Cobalah anda lihat di Jakarta misalnya, Mall tumbuh terus menerus, appartemen menjamur dan sudah sold out sebelum dibangun, perumahan menjamur dan juga terjual, minimarket menjamur, supermaket menjamur, mobil dan motor terjual dalam jumlah yang spektakuler, sekolah-sekolah berkualitas tinggi menjamur, ....

Mengapa usaha tersebut menjamur dan terus berkembang, jawabannya karena permintaan semakin tinggi, fakta menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sangat menjanjikan, bahkan diprediksi pada tahun 2025 ekonomi Indonesia akan menjadi nomor 10 di dunia, dan pada tahun 2050 akan menjadi nomor 5 di dunia.

Jangan sampai menjadi penonton
Jangan sampai, saat Indonesia dilihat sangat prospek oleh usahawan dari bangsa lain, orang-orang Indonesia hanya menjadi penikmat (konsumen) dari potensi tersebut. Bagi sahabat yang saat ini sedang di luar negeri, inilah saatnya anda memikir ulang visi kontribusi yang akan anda berikan terhadap Indonesia, jika anda mempunyai visi menjadi usahawan dengan bekal pengalaman dan pengetahuan anda di luar negeri, maka jangan terlalu lama berfikir, bersegeralah action!. Mulailah membangun usaha di Indonesia.

Untuk membangun usaha, ada beberapa langkah yang disarankan oleh pengusaha Nasional sukses, Bapak Teddy P Rachmat yang berhasil membesarkan Astra International, mendirikan United Tractor, ADIRA, PAMA, ADARO dan Triputra. Dalam salah satu diskusi di Jakarta beliau mengungkapkan strategi membangun usaha, sebagai berikut:
1. Cari angin yang paling besar
"Jika anda ingin bermain layang-layang, dan layang-layang anda ingin terbang tinggi, maka carilah angin yang kuat", pelajarannya adalah agar usaha anda tumbuh sukses maka anda harus cerdas dalam menentukan bidang yang tepat yang akan anda kerjakan. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menentukan angin yang kuat?, caranya adalah perbanyaklah ilmu dan pengetahuan dibidang yang anda ingin geluti, saat yang sama bergaullah dengan orang yang tepat yang juga usahawan. Dan yang terpenting adalah mulailah membangun usaha, dengan cara itu anda belajar lebih cepat dan terus mengasah feeling anda dalam menentukan bidang yang tepat.
2. Ciptakan differensiasi
Selanjutnya adalah ciptakan differensiasi atau keunikan usaha anda. Pertanyaan dasarnya adalah apa bedanya/uniknya usaha anda dengan usaha orang lain yang sejenis. Untuk mengukur seberapa kuat differensiasi usaha anda, maka bayangkan usaha anda berada persis disebelah pesaing anda, apakah produk anda yang dibeli konsumen atau tidak.
Sebagai contoh differensiasi adalah:  Lion Air mengunakan differensiasi "dengan pesawat baru, harga paling murah". Air Asia "Effisiensi", ADARO "Cadangan yang banyak".
3. Leveraging dibidang yang kita unggul
Anda harus tahu persis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman usaha anda. Dengan demikian anda tahu peta keunggulan usaha anda agar bisa bersaing dan memaksimalkan keunggulan tersebut, dan meraih peluang maksimal. Saat yang sama menyadari dengan baik kelemahan dan ancaman yang bisa muncul, dan mengantisipasinya dengan membuat mitigasi resiko.
4. Berani mengambil keputusan (Execution)
Berani dengan cepat dan tepat dalam pemilihan orang, mengikuti dan menghargai proses, dan transparan dalam menjalankan perusahaan.
5. Jadilah atau cari leader yang baik.
Untuk menjalankan usaha dengan baik, maka diperlukan leader yang baik, paling tidak ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu mempunyai reputasi dan kompetensi yang baik.

Bersemangatlah untuk menjadi usahawan dan berharap warga Indonesialah yang akan menjadi pemain utama perekonomian Indonesia, semakin besar usaha anda, semakin banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari usaha anda, artinya anda mendapatkan pahala yang besar dalam membuka lapangan pekerjaan, anda menjadi wasilah (sarana) banyak orang mendapatkan rezeki, dengan cara itu Indonesia akan lebih sejahtera, semakin bermartabat, dan setara dalam pergaulan international. Tentunya akan semakin besar pula kontribusi Indonesia di dunia, dan ingat sebagian besar penduduk Indonesia adalah muslim, artinya jihad anda membangun usaha di Indonesia dan mensejahterakan Indonesia, pada dasarnya adalah jihad anda meninggikan Izzah (martabat) umat Islam terbesar didunia.
Musim panas, dengan cuaca dingin, Hannover, Jerman, 27 Mei 2013
Referensi: diolah dari berbagai sumber

Jumat, 25 Januari 2013

Islamic Entrepreneurship; Urgensi kekayaan di tangan umat Islam

Oleh: Jaharuddin
Lihatlah daftar 10 (sepuluh) orang terkaya di dunia tahun 2012 versi FORBES, (1). Carlos Slim Helu and Family dari Meksiko, dengan kekayaan USD 69 milliar. (2). Bill Gates, Microsoft group, dengan kekayaan USD 61 milliar. (3). Warren Buffet, pemilik Berkshire Hathaway, dengan kekayaan USD 44 milliar. (4). Chairman Louis Vuittin Moet Hennessy Bernard Arnault, dari Prancis, pemilik Louis Vuitton, Bulgari, dll, dengan kekayaan USD 41 milliar. (5). Amancio Ortega, Inditex group, dengan kekayaan USD 37,5 milliar. (6). Larry Ellison, pendiri Oracle, dengan kekayaan USD 36 milliar. (7). Eike Batita, pengusaha minyak dan tambang asal Brasil, dengan kekayaan USD 30 milliar. (8). Stefan Persson, pendiri H&M, dengan kekayaan USD 26 milliar. (9). Li Ka-shing, chairman Hutchison Whampoa Limited, dengan kekayaan USD 25,56 milliar dan 270 ribu karyawan di 53 negara. (10). Karl Albrecht, pengusaha Jerman pemilik Aldi Sud, dengan kekayaan USD 25,4 milliar serta 4500 gerai supermarket.

Bagaimana dengan kondisi Indonesia, siapa 10 (sepuluh) orang terkaya tahun 2012 versi FORBES, dimana posisinya pada daftar orang terkaya di dunia, (1). R. Budi dan Michael Hartono, dengan kekayaan USD 15 milliar. (2). Eka Tjipta Widjaja dan Keluarga, dengan kekayaan USD 7,7 milliar. (3). Susilo wonowidjojo dan keluarga, dengan kekayaan USD7,4 milliar. (4). Anthoni Salim dan keluarga, dengan kekayaan USD 5,2 milliar. (5). Chairul Tanjung, dengan kekayaan USD 3,4 milliar. (6). Sri Prakash Lohia, dengan kekayaan USD 3 milliar. (7). Sukanto Tanoto, dengan kekayaan USD 2,8 milliar. (8). Peter Sondakh, dengan kekayaan USD 2,6 milliar. (9). Boenjamin Setiawan dan keluarga, dengan kekayaan USD  2,35 milliar. (10). Putera Sampoerna dan keluarga, dengan kekayaan 2,3 milliar.

Dari nama yang dipublikasikan FORBES, terdapat satu orang pengusaha muslim yaitu Chairul Tanjung. Muncul pertanyaan untuk direnungkan, mengapa dalam jajaran 10 (sepuluh) pengusaha top dunia tidak ada yang muslim?, mengapa dalam jajaran 10 (sepuluh) pengusaha top Indonesia hanya satu orang yang muslim?, bukankah saat ini umat Islam jumlahnya nomor 2 (dua) terbanyak didunia, bukankah Islam mayoritas di Indonesia. Sewajarnyalah sebagian besar pengusaha top di Indonesia adalah muslim.

Menarik untuk kita renungkan...
Tulisan ini tidak bermaksud mengungkit-ngungkit ketidakadilan peta persaingan yang tidak sempurna, karena mustahil mencari kesempurnaan di dunia ini, yang ada adalah kekuatan dan kecerdasan dalam memanfaatkan peluang ditengah ketidak sempurnaan yang terjadi. Tulisan ini mengajak mendiskusikan persoalan yang tidak simetris, untuk menarik banyak pelajaran dari fenomena yang terjadi, sehingga kedepan umat Islam lebih maju, sambil memformulasikan mimpi kejayaan umat Islam tanpa menciptakan ketidak adilan bagi umat lainnya, akhirnya izzah umat Islam semakin terasa dan maslahat bagi alam semesta. Amin ya robbil alamin.

Mungkinkah, terdapat cara pandang yang kurang tepat dan mind set umat Islam terhadap kekayaan, masihkah kita membuat jarak antara pribadi yang sholeh dengan kekayaan, sama halnya saat awal dakwah masuk ke Indonesia dipersepsikan bahwa orang yang modern dan berpendidikan adalah orang yang Islamnya biasa saja (awam) dan perempuannya tidak berjilbab. Sekarang persepsi itu mampu dibalikkan oleh aktivis dakwah yang tidak pernah berhenti bekerja dan beramal, walau apapun rintangannya.

Masihkah menancap dengan kuatnya, bahwa pengusaha sukses adalah orang yang bergelimang harta dan belum tentu halal, orang yang banyak harta adalah orang yang susah memastikan hartanya bersumber dari sumber yang halal dan susah dipertanggung jawabkan, singkatnya kalau anda ingin sholeh dan tenang dalam menjalani kehidupan, maka ngak usah memaksakan diri dalam mengejar kekayaan, anda cukup beribadah sebanyak-banyaknya untuk persiapan akhirat. Benarkah orang kaya tidak bisa beribadah dengan tenang dan banyak?

Sepertinya, ada dikotomi yang belum tentu benar antara kesholehan dengan kekayaan, menjadi wajar  seseorang yang sholeh jika hanya hidup seadanya. Serta muncul persepsi kalau ada orang yang sholeh hidup berkecukupan, tinggal di kawasan elit, mobilnya mewah, mempunyai villa, resort, hotel, bahkan mempunyai jet pribadi, dan seterusnya, maka perlu dicurigai.

Cobalah berfikir obyektif dan tetap kritis, apakah tidak boleh, sebagai seorang muslim yang baik dan saat yang sama sebagai seorang pengusaha yang sukses yang mempunyai kekayaan top dunia?, bukankah seharusnya kita bangga jika umat Islam yang sholeh dan taatlah yang diamanahkan kekayaan, sehingga alokasi dan distribusi kekayaannya adil dan menentramkan banyak orang, bukankah ini gambaran ideal yang perlu ditanamkan ke generasi penerus.

Belajar dari Generasi Terdahulu
Telusurilah perjalanan Rasulullah dan sahabat, dengan mudah kita menemukan bahwa Rasulullah sendiri adalah seorang yang mempunyai harta yang tidak sedikit, begitu pula para sahabat, seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Usman bin Affan ra, Abdurahman bin Auf ra, dan sahabat lainnya, mereka adalah sahabat nabi yang tidak diragukan lagi kemantapan aqidah Islamnya, namun saat yang sama mereka adalah pribadi-pribadi dengan kekayaan berlimpah, dan dengan kekayaan tersebutlah dakwah Islam dikembangkan sampai kepenjuru dunia.

Seberapa besar kekayaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat?, berikut saya tampilkan beberapa data kekayaan Rasulullah dan sahabat, yang saya konversi dengan nilai kekinian, dengan maksud memudahkan untuk memvisualisasikan besarnya harta kekayaan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat:
a. Nabi Muhammad SAW
Berdasarkan Ekonografi Nabi Muhammad SAW, pada umur 12 tahun beliau sudah aktif sebagai eksportir ke Syam. Di usia 17-19 tahun beliau sudah menjadi pengusaha yang mandiri, beranjak ke usia 22 tahun beliau sudah sangat terkenal di jazirah Arab sebagai seorang profesional. Umur 25 tahun beliau menikah, menjelang usia kenabian beliau mendapat gelar pengusaha terpercaya (al-amin), tokoh arbitrer dan konsultan perdagangan internasional, bentuk pengakuan "sertifikasi" paling prestisius di zamannya. Bahkan beliau sudah berbisnis sampai ke 17 negara.
Beberapa data yang ditemukan terkait kekayaan nabi Muhammad SAW, didasarkan data Abu Faris (1997), beliau memberikan mahar kepada Khadijah sebanyak 20 ekor unta (Rp. +/- 200 juta) dan 12 uqiyah emas (Rp.+/- 217 juta). Nabi Muhammad SAW pernah membagikan lebih dari 1500 ekor unta (Rp.15 milliar) kepada beberapa orang Quraisy sesudah perang Hunain. nabi Muhammad SAW juga pernah menerima 90.000 dirham (Rp. 6,3 milliar), dan uang tersebut dibagikan kepada orang sampai habis.
Syuaibi mencatat beliau membagikan al-kutaibah (pemberian rutin) kepada kerabat dan istri-istrinya beliau, sebagai berikut: kepada Fatimah 200 wasaq, Ali bin Abi Thalib 100 wasaq, Usamah bin Zaid 250 wasaq, Aisyah 200 wasaq, Jafar bin Abi Thalib 50 wasaq, Rabiah bin Harits bin Abdil Muthallib 100 wasaq, Abu bakar 100 wasaq, Aqil bin Abi Thalin 140 wasaq, Bani Jafar 140 wasaq, untuk sekelompok orang dan istri-istrinya 700 wasaq.
b. Abu Bakar ra
Ibnu Umar ra menceritakan, diawal keIslaman Abu Bakar menghabiskan dana sekitar 40.000 dirham untuk memerdekakan budak. Jika harga 1 dirham perak saat ini Rp. 70.000,- artinya yang dibayarkan Abu bakar ra untuk memerdekakan budak sebesar 40.000 x Rp. 70.000,- = Rp. 2,8 milliar. Ketika Abu Bakar ra, berkeinginan membebaskan Bilal ra, dari perbudakan, tuannya Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas, 1 uqiyah emas senilai 31,7475 gr emas, atau setara dengan 7,4 dinar emas. Saat ini harga 1 dinar emas = Rp. 2.454.000,-, berarti uang yang dikeluarkan Abu Bakar ra, adalah (9 x 7,4 x Rp. 2.454.000,-) = Rp. 163.436.400,-.
c. Umar bin Khattab ra.
Didalam kitab Jami' Bayyanil Ilmi wa fadlih, karangan Ibnu Abdil Barr, menerangkan bahwa Umar bin Khattab ra, telah mewasiatkan 1/3 hartanya yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi 120.000 (dinar atau dirham). Dengan demikian total kekayaan Umar bin Khattab jika dinilai dengan kurs saat ini adalah dalam dirham Rp. 8,4 milliar, sedangkan dalam dinar Rp. +/- 294 milliar.
d. Ustman bin Affan ra
Saat perang Tabuk beliau menyumbang 300 ekor unta (+/- Rp. 3 milliar), serta dana sebesar 1.000 dinar emas (Rp. +/- 2,4 milliar), Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh Ustman bin Affan ra, masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu 30.500.000 dirham (Rp. 2.135 trilliun), dan 100.000 dinar (Rp. 245,4 milliar).
e. Abdurrahman bin Auf ra
Ketika menjelang perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf ra, mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 uqiyah emas (Rp.+/- 3,6 milliar), menjelang wafatnya beliau mewasiatkan 50.000 dinar (+/- Rp. 122,7 milliar) untuk infaq fi sabilillah. dari Ayyub (As-syaktiani) dari Muhammad (bin sirrin) memberitakan, ketika Abdurahman bin Auf ra wafat, beliau meninggalkan 4 istri. Seorang istri mendapatkan dari 1/8 warisan sebesar 30.000 dinar emas (Rp. 73,62 milliar), dengan demikian keseluruhan istrinya memperoleh 4 x 30.000 = 120.000 dinar emas (Rp. 294,480 milliar). Maka total warisan yang ditinggalkan oleh Abdurahman bin Auf ra adalah sebesar 960.000 dinar emas (Rp. 2,355 triliun).

Luar biasa bukan, dan realitas saat ini juga menuntut arah yang sama, masuknya generasi dakwah pada tahapan dakwah yang lebih lanjut, menumbuhkan kesadaran bersama bahwa dakwah Islam membutuhkan back up kekayaan, agar mampu bersanding dan bertanding dengan kebathilan yang menghadang.

Semakin tinggi tingkat pemahaman yang diejawantahkan dalam aplikasi keseharian terhadap Islam, berimplikasi terhadap semakin tingginya kebutuhan kekayaan, dan sebaliknya, jika pemahaman keIslaman hanya pada tataran pribadi, maka bisa jadi kekayaan, hanya untuk kebutuhan pribadi dan keluarga, namun jika pemahaman Islam semakin baik, maka muncul kepedulian terhadap tetangga, masyarakat, bangsa, negara, bahkan dunia, dan itu semua berimplikasi dibutuhkan kekayaan untuk menopangnya.

Dengan demikian, marilah kita sama-sama menyadari bahwa pentingnya menyeru umat Islam untuk menjadi umat yang kaya raya sama pentingnya dengan upaya yang sistematis dalam membangun aqidah umat, atau tidak perlu dipertentangkan, dan keduanya berjalan beriringan, sehinga mobilitas horizontal dan vertikal dakwah umat Islam semakin maksimal. Akhirnya cita-cita generasi yang dibentuk oleh generasi dakwah saat ini, tidak hanya mempunyai cita-cita menjadi dokter, insinyur, profesor,...juga dokter yang pengusaha (misal punya rumah sakit), insinyur yg pengusaha (misal punya pabrik automotif), profesor yang pengusaha (misal punya perusahaan yang selaras dengan riset sang profesor),......Amin ya robbil alamin.

Musim dinggin, Hannover, Jerman, 6 Januari 2013, pk 13.17 CET
sumber: www.okezone.com, www.republikaonline.com, www.masterfajar.com, www.wakalanusantara.com, fb: muallaf center indonesia, syariahmaqasid.blogspot.com, dan sumber lainnya.

Kamis, 10 Januari 2013

Peluang Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia

Oleh: Jaharuddin
Islamic Finance Intelegence Summit, Kuala Lumpur pada tahun 2011 memprediksi Indonesia akan memimpin industri keuangan syariah dunia pada tahun 2023 dengan total aset US$ 1,597 Triliun. Semoga kita sudah pernah mendengar atau membaca informasi ini. Semoga saja para petinggi dan pemegang kebijakan strategis di Indonesia, juga telah memahami dan menyiapkan langkah nyata. Masa tersebut hanya tinggal 10 tahun kurang, dan hendaknya semua elemen bangsa bersatu memahami esensi dan manfaat yang diterima oleh bangsa Indonesia.

Salah satu manfaat nyata adalah semakin berlipat-lipatnya perputaran modal berbasis syariah di Indonesia, implikasinya adalah jika modal berbasis syariah semakin besar berputar dan mengalir dalam suatu negara, maka, langsung berkorelasi positif dengan bergeraknya sektor riil. Investasi meningkat dengan tajam, baik untuk infrastruktur, jasa maupun produk. Dalam bahasa awam, industri bergerak semakin kencang, karena suntikan modal yang berlimpah dengan biaya modal yang murah. Hal ini akan mendorong para pengusaha untuk menambah modal kerja (investasi), yang berimplikasi pada ekspansinya perusahaan, dengan demikian akan membuka lapangan pekerjaan yang semakin masif, daya serap tenga kerja samakin banyak, pengangguran berkurang, masyarakat semakin banyak yang mempunyai pendapatan, daya beli meningkat yang menigindikasikan kesejahteraan meningkat, perputaran barang dan jasa semakin kencang seiring dengan bertambahnya invesatasi diberbagai sektor.

Berlimpahnya modal, juga akan berimplikasi positif pada penyediaan modal untuk infratruktur, yang sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah dalam setiap periode pemerintahan, ketimpangan infrastruktur antar pulau masih kentara dirasakan, dengan adanya suntikan modal akan memudahkan pemerintah untuk bergerak mempercepat pengadaan infrastruktur antar pulau.

Kesempatan ini hendaknya tidak diabaikan begitu saja, kehidupan yang lebih sejahtera merupakan amanat konstitusi kita, ini merupakan mimpi dari berbgai elemen bangsa, jika terwujud menjadi prestasi tersendiri bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dan mayoritasnya adalah Islam,  kita semua harus selalu memupuk rasa optimis bahwa mimpi tersebut menjadi nyata. Amin.

Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan potensi yang sangat besar, sangat berpeluang untuk menjadi pusat industri keuangan syariah karena Indonesia mempunyai penduduk muslim terbesar didunia yang selalu berkembang dan menunjukkan kinerja ekonomi yang semakin baik, Indonesia juga merupakan negara yang mempunyai sumber daya manusia yang terus berkembang, negara dengan toleransi yang baik, negara yang mampu mengkombinasikan semangat beragama yang baik saat yang sama juga modern dan tetap bergaul dengan tataran internasional dengan beragam latar belakang dan agama, negara yang mempunyai karakter sebagai negara yang terbuka dan siap melakukan perbaikan kearah yang lebih baik.

Walaupun demikian ada beberapa pekerjaan domestik yang secara bertahap perlu diselesaikan yaitu  menguatkan soliditas internal bangsa Indonesia, agar rencana ini benar-benar masuk dalam rencana kerja yang berkelanjutan dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang lain, untuk itu para pegiat ekonomi syariah harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengawal siapapun penguasa, dengan mengedepankan asas manfaat jika rencana ini terjadi. dengan cara inilah akhirnya solidtas bisa tercapai, dan kebutuhan menjadi negara yang nomor wahid dibidang industri keuangan syariah didunia bisa terjadi, batu sandungan lainnya adalah adanya sekelompok kecil orang di Indonesia yang masih saja melihat ada agenda tersembunyi dibalik arus ekonomi syariah, walaupun telah banyak keungulan ekonomi syariah yang dibuktikan secara ilmiah. sepertinya mereka ini khawatir kebebasan mereka dihambat dengan adanya arus ekonomi syariah ini, padahal Islam tidak pernah memaksakan sesuatu kepada pihak manapun.

Dengan demikian rencana ini membuka peluang yang besar bagi pegiat ekonomi syariah untuk secepat mungkin menyiapkan sumber daya yang unggul untuk menopang agenda besar tersebut, seharusnyalah universitas-universitas begengsi di Indonesia menjadikan fakultas/jurusan/program studi yang terkait ekonomi dan keuangan syariah menjadi unggulan, baik sarjana maupun pasca sarja, hal yang sama harus juga dilakukan pada kampus akademi, politeknik, SMA, bahkan pendidikan dasar. Saat ini saja pertumbuhan industri syariah di Indonesia belum mampu diimbangi dengan jumlah dan kualitas lulusan dari perguruan tinggi di Indonesia.

Namun, jangan lupa belum tentu agenda ini bisa mulus berjalan, karena bisa jadi negara lainpun juga berminat menjadi pusat industri keuangan syariah, sebelum ini kita pernah mendengar Singapura menginginkan menjadi pusat industri keuangan syariah dunia, dan ini beralasan, Singapura diapit oleh dua negara dengan jumlah penduduk muslim besar di dunia yaitu Indoensia dan Malaysia, Singapurapun sudah terbiasa menjadi pusat bisnis dunia, karena posisinya juga strategis. Dengan demikian Indonesia perlu mewaspadai langkah-langkah ini, untuk diantisipasi.

Walaupun saat ini perekonomian eropa sedang tergoncang, dan goncangan tersebut bisa jadi menguatkan negara-negara eropa untuk melihat sistim ekonomi Islam sebagai solusi, indikasi tersebut terlihat di Ingris dan Prancis, saat ini negara yang mempunyai ekonomi paling kuat di eropa pun juga melirik sistim ini untuk dipelajari dengan serius. Ada beberapa mahasiswa kita saat ini sedang melakukan riset ekonomi syariah untuk doktoran di Inggris, sesuatu yang bagi saya agak terbalik, bukankah seharusnya mahasiswa dari Inggris yang datang ke kita untuk belajar ekonomi Islam, namun begitulah kenyataannya dan ini harus direbut.

Agenda bersama
2023 bukanlah masa yang lama, untuk hitungan perguruan tinggi hanya mampu meluluskan dua generasi. Untuk itu secepatnya perlu disusun langkah-langkah kongret dalam mencapai masa tersebut, dengan masing-masing pihak mengambil perannya masing-masing. Langkah-langkah strategis tersebut dirancang dalam rangka menyambut, maka para pakar ekonomi syariah, harus menyatukan gerak dan langkah agar derap menuju masa tersebut bisa tercapai dengan baik. Lembaga seperti IAEI, MES, Kampus, Pusat studi, para peniliti, harus bersatu membuat rumusan langkah nyata dan melakukan sosialisasi masif.

Para pakar ekonomi syariah harus mampu memvisualisasikan dengan nyata seperti apa Indonesia saat menjadi negara nomor wahid industri keuangan syariahnya, apa manfaatnya, dampaknya dan kesejahteraan seperti apa yang akan dirasakan masyarakat banyak.
belum selesai, belum diedit.
Hannover, Jerman, 10 Januari 2013

Senin, 26 November 2012

Tips Mendapatkan Judul Penelitian Ekonomi Syariah

Oleh: Jaharuddin
Saya mendapatkan beberapa pertanyaan seputar bagaimana membuat, mendapatkan judul penelitian ekonomi Syariah, baik untuk skripsi maupun tesis. Akhirnya saya terfikir menuliskan ide saya seputar pertanyaan tersebut dengan maksud berbagi pengetahuan untuk kemaslahatan bersama.

Pada dasarnya penelitian dilakukan untuk menjawab masalah yang muncul dibidang yang anda tekuni, atau masalah muncul ketika ada ketidak sesuaian antara kondisi yang seharusnya terjadi (bisa didasarkan teori) dengan kondisi nyata yang terjadi. Contoh: TEORI: Banyak keunggulan perbankan syariah dibanding bank Konvensional. REALITA: Marketshare perbankan syariah di Indonesia baru sekitar 5%. Muncul MASALAH: Kenapa marketshare baru sekitar 5%?, ini bisa menjadi obyek penelitian.

Sederhananya penelitian dilakukan dalam rangka menjawab MASALAH. Dengan demikian tinggal kejelian kita semua melihat apa masalah yang muncul dalam bidang yang ingin kita teliti.

Selanjutnya untuk mendapatkan masalah, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, seperti:
(1). Tentukan Minat penelitian anda.
Ekonomi Syariah, sesuai dengan perkembangannya banyak mengalami pengembangan, dan ini positif bagi pegiat dan peneliti ekonomi Syariah, ladang ilmu ekonomi syariah berkembang pesat, saat yang sama dibutuhkan banyak gagasan dan penelitian yang bisa menjawab pertanyaan yang banyak tentang ekonomi syariah. Ekonomi Syariah melingkupi banyak aspek, seperti perbankan, pasar modal, assuransi, zakat, infaq, shadaqah, gadai, pembangunan, manajemen, hotel, dan berbagai aspek lainnya.
Ini memberi peluang yang besar bagi anda peneliti ekonomi syariah untuk berkreasi untuk membuat penelitian ekonomi syariah. Namun ada kalanya ini menjadi batu sandungan bagi peneliti pemula, karena luasnya ladang ilmu ekonomi syariah membuat bingung, topik apa yang mau diteliti. Dengan demikian saya menyarankan bagi anda yang sedang mengagas penelitian terkait ekonomi syariah, tentukan bidang penelitian yang anda minati.
(2). Baca Penelitian dan datangi forum kajian ilmiah ekonomi Syariah.
Setelah anda memutuskan bidang penelitian ekonomi syariah yang anda minati, maka satu langkah sudah terlewati. Langkah selanjutnya adalah kumpulkan sebanyak mungkin penelitian tentang bidang yang anda minati, dan mulailah membaca penelitian tersebut satu persatu. Untuk tahapan ini saya juga menyarankan anda untuk membuat ringkasan penelitian yang anda baca, dengan membuat ringkasan dengan pola sebagai berikut:
What?  (Judulnya apa, dan tentang apa penelitiannya)
Why? (apa latar belakang penelitiannya, masalahnya apa)
How? (dengan metode apa masalah penelitian dijawab, metodenya, alat analisanya, model yang digunakan, data yang digunakan, dll)
Where and When? (Kapan dan dimana penelitian dilakukan)
Who? (siapa penelitinya)
Result? (Tuliskan dengan singkat hasil penelitiannya, termasuk rekomendasi/catatan penelitian selanjutnya)
Dengan cara ini, anda akan lebih mudah membaca hasil penelitian, dan akhirnya juga anda mempunyai catatan dan bisa membandingkan satu penelitian dengan penelitian selanjutnya, dan akhirnya anda akan lebih jeli dalam melihat, sisi mana yang anda akan teliti dan dalami.
Untuk memperkaya khasanah penelitian dan pengetahuan anda tentang topik yang anda minati dan teliti, maka saya sangat menyarankan anda untuk mendatangi forum-forum ilmiah yang terkait, sehingga khazanah pemikiran anda semakin kaya dan lebih kuat.
Dalam beberapa kasus, ketika anda melakukan langkah diatas, sudah bisa melahirkan satu paper review seputar topik yang anda minati, dan sudah bisa menjadi satu karya ilmiah dan bisa diterbitkan dalam jurnal penelitian.
Ketika anda membaca, membuat ringkasan dan mengikuti forum ilmiah, ketika muncul ide penelitian apapun, jangan tunda untuk menuliskannya dan simpan dengan rapi (bisa di komputer, HP, ipad, note book, dll), dan dari ide ini bisa jadi muncul ide brilian yang diluar dugaan anda.
Setelah anda mempunyai waktu yang cukup dan bisa konsentrasi maka reviewlah kembali ide-ide yang muncul tersebut, dan lakukan penyesuaian sesuai dengan minat anda. dan tuliskan beberapa judul penelitian dan masalah yang ingin anda teliti.
maka jadilah judul penelitian, jika anda mau lengkap, maka buat tulisan singkat dengan pola What, Why, How, Where, When dan Who tentang ide penelitian anda. Selanjutnya silakan dikonsultasikan dengan pembimbing anda.

Sebagai tambahan catatan dari saya, adakalanya peneliti pemula, merasa kesulitan tentang metode, alat analisis dan data yang digunakan untuk menyelesaikan proyek penelitiannya. Anda ngak usah gusar dulu, ini adalah kasus yang wajar, karena bisa jadi saat belajar mata kuliah "alat" baik itu statistik, metode penelitian, dll, ada sebagian pengajar yang masih mengedepankan aspek teorinya, sehingga mahasiswa jago menghitung-hitung, namun ketika ditanyakan apa manfaatnya atau untuk apa digunakan, jadi bingung...:).
Untuk itu saya menyarankan bagi anda para pengajar mata kuliah "alat" maka, buatlah mata kuliah anda menjadi lebih mudah bagi mahasiswa untuk memahami, kedepankan aspek manfaat alat-alat hitung dan analisis tersebut. Perlu dipertegas bahwasanya, mahasiswa bukan hanya menghitung-hitung namun mata kuliah alat adalah sebagai alat bantu untuk menyelesaikan penelitan A, B, C dan seterusnya.
Idealnya, mahasiswa dibantu oleh tim yang disediakan kampus, atau institusi tertentu untuk menjawab problem ini, karena pada dasarnya, semua ide penelitian bisa diselesaikan jika diketahui dengan baik alat bantu yang seharusnya digunakan. Adakalanya, seorang peneliti yang banyak menghasilkan penelitian, biasanya juga mempunyai penguasaan yang baik terhadap mata kuliah "alat".
semoga bermanfaat.
Leibnizhaus, Holzmarkt 4. Tower C Lt. 3 Zimmer 1 (C3.1)
Hannover, Jerman, Awal Musim Dinggin, 26 Nov 2012, pukul 21.26 CET

Rabu, 22 Februari 2012

Apa Kontribusi Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dalam memberantas korupsi?


Oleh: Jaharuddin

Korupsi sudah menjadi penyakit kronis dinegara kita, setiap hari media memberitakan pengadilan pihak yang diduga korupsi, satu kasus belum selesai, muncul lagi kasus baru yang juga tidak kalah menariknya, setiap hari masyarakat dijejali informasi seperti sinetron lika-liku korupsi, apakah pemberitaan media masih positif memberikan motivasi terhadap masyarakat atau masyarakat semakin terbebani dan jenuh dengan pemberitaan media? Saya tidak tahu persis.

Seolah-olah tidak akan bisa seseorang menjadi pejabat publik tanpa korupsi. Memprihatinkan!. Pertanyaan selanjutnya adalah apa peran yang bisa dimainkan oleh ekonomi syariah wabil khusus lembaga keuangan syariah untuk memberantas praktek kotor ini?

Praktek kotor korupsi tidak terlepas dari “uang” yang beredar di masyarakat, dan uang banyak terkumpul di lembaga keuangan. Lembaga keuangan konvensional sudah jelas mendapatkan keuntungan dari banyaknya simpanan dana pihak ketiga di banknya, yang dilakukan adalah membuat produk-produk dan pelayanan yang membuat nasabah semakin nyaman bertransaksi dan menyimpan uangnya di bank tersebut. Lembaga keuangan syariah tidak hanya mencari keuntungan namun juga memberikan keberkahan dan solusi bagi masyarakat.

Dengan demikian seharusnya lembaga keuangan syariah bisa berkontribusi dalam memberantas korupsi, salah satu caranya adalah dengan melakukan kontrol, terhadap transaksi dan aliran dana nasabah.

Mungkin terkesan aneh, bukankah salah satu cara bank dalam mendapatkan laba adalah dengan mengumpulkan dana pihak ketiga, untuk disalurkan kembali ke masyarakat, artinya pihak bank mempunyai kepentingan untuk memperbanyak dana pihak ketiga, bahkan setiap lembaga keuangan mempunyai target pengumpulan dana masyarakat.

Cara-cara seperti ini bisa jadi membuat para account officer, berusaha dengan berbagai cara mendapatkan nasabah, untuk kemaslahatan masyarakat dan keberkahan bangsa ini, maka diperlukan terobosan dari lembaga keuangan syariah untuk tidak serta merta “gembira” dengan banyaknya deposito/simpanan seseorang, Lembaga keuangan syariah mempunyai fungsi lebih, yaitu pastikan dana yang disetor atau ditransaksikan melalui lembaga keuangan syariah adalah dana yang halal dan berkah.

Jangan sampai suatu ketika kita mendengar tersangka korupsi, dalam proses sidangnya ternyata diketahui menyimpan dana hasil korupsinya di Bank Syariah X ?, sebagai lembaga yang berbasis syariah seharusnya kita semua malu dan sedih.

Saya berkeyakinan, banyak regulasi yang membuat upaya-upaya seperti ini menjadi sekedar wacana, bukankah regulasi tersebut juga buatan manusia, yang bisa jadi mengandung kelemahan dan kesalahan, bukankah kita semua menyadari bahwa bangsa ini perlu diselamatkan dari perilaku koruptif? untuk itu diperlukan terobosan dan keinginan kuat dari semua pihak untuk bersungguh-sungguh dalam membenahi bangsa ini.

Apa yang bisa dilakukan LKS?
Kalaulah secara regulasi masih banyak hambatan-hambatan LKS ikut aktif memberantas korupsi, dengan mengontrol aliran transaksi nasabah, dan resikonya jumlah dana pihak ketiga di LKS bisa menurun. Maka paling tidak LKS harus ikut berkontribusi dalam pemberatasan korupsi dengan cara memasang iklan-iklan anti korupsi di atm, layar atm, internet banking, slip transaksi, dan semua sarana yang bisa digunakan nasabah untuk bertransaksi.

Diharapkan dengan kampanye ini, ada upaya yang sistematis dan terencana, untuk mengingatkan nasabah untuk tidak melakukan transaksi untuk korupsi. Hal lain yang bisa dilakukan oleh LKS adalah mengandeng lembaga anti korupsi seperti KPK, dan LSM anti korupsi untuk membuat kampanye, dan melakukan langkah-langkah preventif yang bisa dilakukan oleh LKS sebagai penyedia jasa layanan keuangan. Bukankah anda yang berada di LKS seharusnya merasa ikut berdosa jika ternyata bank anda menjadi sarana yang mudah bagi nasabah untuk bertransaksi dana korupsi.

sebagai contoh di Jerman, jika ada transaksi masuk atau keluar dari suatu account mulai berjumlah 10.000 euro, maka biasanya pihak bank akan memanggil nasabah untuk mengklarifikasi dana tersebut. begitulah cara mereka memastikan dana tersebut dana yang syah dan legal. Kenapa Perbankan Syariah tidak berani melakukan hal yang sama?, ini tantangan bagi pelaku perbankan syariah di tanah air.

Dengan demikian lembaga keuangan syariah bukan hanya solusi bagi perekonomian, namun lembaga keuangan syairah dan ekonomi syariah menjadi solusi carut marutnya perilaku koruptif saat ini.
Semoga bermanfaat.

Hannover, Jerman
Musim Dingin, 16 Februari 2012, pukul 19.40 CET/01.40 WIB

Jumat, 13 Januari 2012

Islamic Fund Management VS Conventional Fund Management

Noripah Kamso

Islamic Fund Management

Kfh Malaysia) - Islamic Fund Mgt

Establish a fund for shariah compliant investors: sharing our experience.

Haresham Baharum

Minggu, 27 November 2011

EKONOMI ISLAM: agar hidup penuh berkah

EKONOMI SYARIAH, Agar Hidup Penuh Berkah

Rabu, 16 November 2011

Langkah-langkah Membuat Anggaran sesuai Syariah (bag.1)


Oleh: Shinta Rahmani
Membuat anggaran akan memberi manfaat yang besar buat anda. Anggaran merupakan salah satu alat perencanaan keuangan

Kebanyakan dari kita sudah mengenal apa yang dimaksud dengan anggaran, yaitu memperkirakan dan mengalokasikan besarnya dana untuk suatu kegiatan atau keperluan tertentu. Banyak cara yang bisa dan biasa kita lakukan untuk menyusun Anggaran Rumah Tangga ini. Para “menteri keuangan rumah tangga” sejak dahulu kala sudah melakukannya. Mereka membagi penghasilan yang diperoleh keluarganya pada pos-pos pengeluaran rumah tangga, seperti membayar tagihan listrik, air, biaya belanja makanan selama sebulan, membayar gaji pembantu rumah tangga, baby sitter, supir dan lain-lain.

Mereka juga ada yang menggunakan amplop sebagai cara untuk memilah-milah uang pada pos-pos pengeluaran tertentu. Tiap amplop diasumsikan sebuh pos pengeluaran. Dana yang dianggarkan untuk pos pengeluaran tertentu dimasukkan pada amplop tertentu. Sebanyak apapun pos yang dibuat sebanyak itu pula Amplop disediakan. Singkatnya, kita menyebutnya sebagai manajemen Amplop. Bentuk yang lebih modern dari amplop adalah menggunakan rekening bank untuk memilah pos pengeluaran ini. Singkatnya banyak cara yang bisa digunakan untuk mengatur anggaran rumah tangga.

Bagaimana cara membuatnya agar sesuai syariah?

Langkah pertama adalah mengeluarkan zakat atas penghasilan yang diperoleh. Besarnya zakat ini adalah 2,5% dari penghasilan. Dalil atas wajibnya zakat profesi/penghasilan gajian adalah keumuman lafadz, Allah berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah (2): 267)

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bahagian”.(QS. Adz-Dzaariyaat (51): 19).

Selanjutnya alokasikan untuk sedekah dan infaq, besarnya tergantung kemampuan Anda. Karena balasan dari Allah bisa 10 kali lipat atau 700 kali lipat, maka semakin besar Anda mampu menerima balasannya, semakin besar harus dialokasikan.

Langkah kedua adalah membayar hutang-hutang atau cicilan hutang yang dimiliki. Cicilan hutang seperti KPR, KPM, atau bahkan mungkin pembelian barang dengan sistem tunda (kredit) harus didahulukan karena merupakan janji kepada pemberi pinjaman.

Langkah ketiga membayar biaya masa depan atau menyisihkan sebagian harta untuk masa dimana Anda memerlukannya kelak, atau kita sebut sebagai investasi

Langkah keempat menggunakan sisa penghasilan untuk biaya konsumsi. Saat menggunakan anggaran konsumsi ini, utamakan biaya untuk hidup, seperti membeli makanan, sewa rumah, listrik, air, uang sekolah, kewajiban pada pihak lain seperti gaji pembantu rumah tangga, supir, baby sitter, tukang kebun dan lain-lain. Biaya entertain dan kesenangan lain, bisa anda alokasikan kemudian.

Dengan dana yang ‘terbatas’ yang siap dikonsumsi, maka pola konsumsi akan mengikuti jumlah uang yang dianggarkan, sehingga tidak berlebihan karena memang uangnya sudah dibatasi. Kalau dibalik, anggaran konsumsi rumah tangga diletakkan diurutan pertama, maka dapat dipastikan tak ada lagi uang yang bisa dimasukkan pos investasi, yang hasilnya baru akan dinikmati dimasa datang, terlebih lagi pos untuk zakat penghasilan. Pada umumnya, uang akan habis bahkan kurang diakhir waktu anggaran atau diakhir bulan. (bersambung)
sumber: http://amanahsharia.wordpress.com/2011

Selasa, 15 November 2011

ANALISIS KINERJA BANK SYARIAH DITINJAU DARI PERSPEKTIF KEUANGANDAN PELANGGAN: STUDI KASUS BSM DAN BMI

Analisis Kinerja Bank Syariah,bUDIMAN iNDRA jAYA, GUSTIAN

Efisensi-UUS-Dengan-Metode-SFA-Derivasi fungsi Profit dan BOPO

Efisensi UUS Dengan Metode SFA,Novarini

Efficiency analysis of Conventional and Islamic Bank in Indonesia using data envelopment analysis

Ascarya Edit

Senin, 26 September 2011

an efficient porfolio frontier of Islamic banking financing instruments (Indonesian case 2001-2007)

Rifki Islmal Edit

Analisis Kinerja bank syariah ditinjau dari perspektif keuangan dan pelanggan, studi Kasus BSM dan BMI

analisis_kinerja_bank_syariah[1]

Kamis, 22 September 2011

Marketing is about FACILITATING


Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Marketing yang semula adalah SELLING yang bersifat vertical dari Brand ke Customer, sekarang sudah berubah menjadi FACILITATING yang bersifat horizontal dari Customer ke Customer.

Syariah Marketing HARUS MELIBATKAN DIRI dengan kondisi ini.

Tidak relevan lagi bagi Bisnis Syariah ketika hanya CUMA mengandalkan iklan yang sifatnya menomorsatukan merek diri sendiri. Kecap nomor satu deh pokoknya! Hehehe

Iklan diperlukan hanya untuk sebatas tujuan awareness, edukasi, sosialisasi. Kalau untuk tujuan merebut hati pelanggan, Bisnis Syariah harus terlibat aktif dalam memberikan fasilitas pelanggan untuk mengekspresikan diri di publik.

Honesty, Humble (Under Promise Over Deliver), Trust, Credible pun ternyata tidak cukup. Itu semua hanyalah PRA SYARAT yang memang harus terpenuhi TERLEBIH DAHULU. Selanjutnya adalah melibatkan diri dalam social media baik yang Offline maupun Online.

Optimalisasi Marketing Mix juga tidak cukup. Itu semua hanyalah pra syarat yang memang harus terpenuhi TERLEBIH DAHULU. Selanjutnya Bisnis Syariah harus memasarkan sistem, produk, dan layanannya dari PERSPEKTIF PELANGGAN.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Yuswohady, salah satu cara untuk mengoptimalkan fungsi facilitating adalah jadikanlah facilitating sebagai Reason for Being.

Facilitating is Your Reason for Being.
Bisnis Syariah tidak ada jika tidak mampu memfasilitasi.
Bank Syariah tidak ada jika tidak mampu memfasilitasi.

Facilitating bisa dilakukan dengan menyediakan wahana interaksi, share, problem solving, empower (memberdayakan) pelanggan ekspresikan minat dan aspirasi.

Syariah Marketer sejati harus bisa memfasilitasi komunitas pelanggan. Yuswohady menyebut ada 5 fungsi Facilitating yaitu: (1) Interactions, (2) Expressing Aspirations, (3) Helping Others, (4) Doing Business, (5) Designing Product.

#1 Interactions

Bisnis Syariah harus bisa memfasilitasi interaksi komunitas Ekonomi Syariah. Saat ini Bisnis Syariah sudah memiliki milis interaktif yang menghubungkan antara pelaku Bisnis, Akademisi dengan Pelanggan, seperti milis Ekonomi-Syariah, milis FoSSEI (Forum Studi dan Silaturahim Ekonomi Syariah), milis Pengusaha-Muslim, milis PM-Fatwa, dan lain-lain.

Forum Riset Perbankan Syariah merupakan langkah positif untuk mengakomodir interaksi aktif publik terhadap Bisnis Syariah. Namun Bisnis Syariah perlu terobosan baru berupa forum yang lebih interaktif, jujur, transparan, akomodatif, bukan basa basi.

2# Expressing Aspirations

Bisnis Syariah harus bisa mewadahi komunitas Bisnis Syariah untuk mengekspresikan diri. Selain fungsi interaksi, Forum Riset Perbankan Syariah juga sangat efektif sebagai wahana ekspresi pemikiran para penggiat Bisnis Syariah.

Selain mengadakan lomba penulisan paper dan penelitian, Bisnis Syariah bisa mengadakan lomba cipta lagu, lomba inovasi produk, lomba wirausaha, dan lain-lain yang arahnya mengakomodir ekspresi potensi publik, baik yang ada kaitan langsung dengan Bisnis Syariah maupun tidak.

Untuk menampilkan ekspresi publik, Bisnis Syariah bisa menyediakan domain khusus (misalnya blogsyariah.com) yang bisa mengakomodir publik membuat blog. Ide seperti ini telah dijalankan oleh kompasiana.com, blogdetik.com.

#3 Helping Others

Salah satu fungsi facilitating adalah saling membantu sesama. Bisnis Syariah bisa membuat kegiatan maupun sarana prasarana yang bisa membantu dan memudahkan urusan publik. Misalnya saja menyediakan acara mudik gratis.

#4 Doing Business

Bisnis Syariah bisa melakukan Bisnis dengan komunitas tertentu, atau mempertemukan antara produsen dan konsumen. Misalnya Bisnis Syariah bekerja sama dengan toko emas atau supplier emas yang menyediakan emas untuk produk gadai emas.

#5 Designing Product

Bisnis Syariah bisa membuat forum komunikasi interaktif baik online maupun offline yang membahas mengenai produk-produk Syariah. Produk-produk Syariah akan dibahas secara detil, kemudian diteliti kekurangan dan kelebihannya, melakukan riset produk, sehingga kemudian bisa bersama-sama dengan publik menemukan produk yang cocok, tepat, sesuai Syariah dan benar-benar dibutuhkan publik.

# Solving Problems

Bisnis Syariah bisa membuat forum, komunitas, blog, atau sarana online maupun offline, misalnya yang memberikan penjelasan, konsultasi, tanya jawab, tips mengenai Perencanaan Keuangan Syariah.

Rabu, 21 September 2011

Keunggulan Dan Keberkahan Dinar

Keunggulan Dan Keberkahan Dinar

Selasa, 20 September 2011

Instrumen Investasi Pasar Modal (analisis perbandingan obligasi dan sukuk)

Instrumen Investasi Pasar Modal, Kamal Zubair

Analisa Karakteristik an Dan Ekonomi Makro Pada Return Saham Syariah Dan Non Syariah

Analisa Karakteristik an Dan Ekonomi Makro Pada Return Saham Syariah Dan Non Syariah, Ardi Hamzah Edit

Islamic Economics Higher Education: a critical survey

Rahmatina Awaliah Kasri

Kesiapan Mahasiswa Ekonomi Syariah Terhadap Pasar Tenaga Kerja

Kesiapan Mahasiswa Ekonomi Syariah Terhadap Pasar Tenaga Kerja ..Piliyanti Presentasi Edit

Akselerasi Pengembangan pendidikan tinggi ekonomi Islam di Indonesia

Akselerasi an Pendidikan Tinggi Ekonomi Islam Di Indonesia

The Performance analysis of Islamic stock-a comparative study Indonesia-Malaysia

Ilham Reza Ferdia STock

Senin, 25 Juli 2011

Ekonomi Ramadhan


Yusuf Wibisono

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEUI

Ramadhan adalah momentum besar tahunan umat Islam untuk melakukan perbaikan diri baik secara moral, spiritual maupun material. Peningkatan kualitas diri secara moral dan spiritual melalui Ramadhan, telah lama dan banyak dibahas. Namun perbaikan kualitas diri secara material, tidak banyak mendapat perhatian. Tulisan ini akan menganalisis aspek ekonomi dari Ramadhan.

Konsumsi dan Pengeluaran Agregat

Ibadah terpenting di bulan Ramadhan adalah ibadah puasa. Puasa secara langsung akan merubah pola konsumsi umat muslim, yaitu turunnya konsumsi individu yang berpuasa. Secara makro, hal ini akan menurunkan konsumsi agregat, khususnya barang kebutuhan pokok. Di saat yang sama, di bulan Ramadhan terdapat anjuran yang sangat kuat untuk berderma, seperti memberi makan orang yang berbuka puasa. Hasil akhirnya adalah terjadi efek saling meniadakan, konsumsi orang kaya menurun, konsumsi orang miskin meningkat.

Dengan demikian, tujuan akhir yang ingin dicapai Ramadhan adalah pemerataan konsumsi melalui consumption- transfer dari kelompok kaya ke kelompok miskin sehingga proporsi konsumsi kelompok miskin dalam konsumsi agregat akan meningkat. Dengan demikian, tidak akan ada tekanan permintaan yang mendorong kenaikan harga-harga (demand-pull inflation). Distribusi konsumsi yang lebih merata, akan menekan masalah-masalah sosial di masyarakat seperti kelaparan ekstrim, kurang gizi dan gizi buruk pada anak, minimnya akses terhadap air bersih, menurunnya tingkat kematian bayi, hingga meningkatkan kohesi sosial.

Namun yang kita saksikan hari ini sangat jauh dari idealita. Konsumsi kelompok kaya tidak menurun, bahkan meningkat pesat. Akibatnya, terjadi kenaikan permintaan barang dan jasa secara signifikan sehingga mendorong inflasi. Dan yang paling keras terpukul oleh kenaikan harga ini jelas adalah kelompok miskin. Transfer konsumsi dari kelompok kaya ke kelompok miskin juga tidak berjalan mulus. Alih-alih meningkat, proporsi konsumsi kelompok miskin justru menurun tergerus oleh inflasi.

Lebih jauh lagi, selama bulan Ramadhan umat muslim juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, konsumsi kelompok kaya yang umumnya merupakan konsumsi barang non-primer akan menurun. Ramadhan juga akan mendorong aktivitas konsumsi yang berbasis moral dan etika seperti makanan dan minuman halal, busana muslim, perlengkapan ibadah, dan lain-lain. Hal ini akan mendorong konsumsi yang lebih berkualitas melalui consumption- switching dari konsumsi barang-barang mewah dan tidak ber-etika ke barang-barang primer dan berbasis etika.

Namun sekali lagi kita menyaksikan hal yang jauh dari ideal. Konsumsi non-primer masyarakat muslim terlihat tidak menurun, bahkan meningkat. Pusat-pusat perbelanjaan justru semakin dipadati pengunjung, tempat-tempat wisata dan hiburan tidak menjadi sepi. Aktivitas TV justru meningkat menjadi 24 jam di bulan Ramadhan, yang isi dan kualitas tayangannya secara ironis justru jauh dari semangat Ramadhan. Hasrat konsumerisme berbalut ritual artifisial justru semakin dikobarkan di bulan suci.

Pengentasan Kemiskinan dan Efisiensi Alokatif

Aktvitas lain yang sangat didorong di bulan Ramadhan adalah sedekah. Sedekah adalah bentuk pengakuan paling mendasar atas konsep istikhlaf (perwakilan) ; bahwa pada esensi-nya seluruh harta adalah milik Allah (QS 10: 66). Terinternalisasi- nya konsep istikhlaf ini secara kuat akan menekan aktivitas penimbunan harta, perlombaan dalam mengejar kekayaan, kejahatan ekonomi, dan kesenjangan sosial.

Secara umum terdapat dua jenis sedekah, yaitu sedekah wajib dan sedekah sunnah. Sedekah wajib adalah zakat, yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat maal (harta). Sedangkan sedekah sunnah memiliki banyak bentuk mulai dari infaq, sedekah jariyah, dan wakaf hingga sumbangan tenaga dan pemikiran. Filantropi Islam, berbeda dengan filantropi konvensional, berakar dari kepercayaan terhadap Tuhan yang menciptakan bumi dan langit serta seluruh isinya untuk kepentingan semua manusia. Filantropi Islam bernilai transendental tinggi, tidak akan menjadi sarana pencucian dosa atau tameng dari agenda tersembunyi, dan bukan kegiatan insidental.

Filantropi Islam memiliki peran penting dalam perekonomian. Peran penting pertama terkait pengentasan kemiskinan. Instrument filantropi Islam adalah mekanisme transfer dari kelompok kaya ke kelompok miskin yang tepat sasaran. Di saat yang sama, instrument filantropi Islam telah berperan sebagai jaring pengaman sosial yang efektif.

Dengan adanya transfer pendapatan dari kelompok kaya ke kelompok miskin maka akan terjadi peningkatan permintaan barang dan jasa dari kelompok miskin, yang umumnya adalah kebutuhan dasar. Permintaan yang lebih tinggi untuk kebutuhan dasar masyarakat terkait filantropi Islam ini, akan mempengaruhi komposisi produksi barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian, sehingga akan membawa pada alokasi sumber daya menuju ke sektor-sektor yang lebih diinginkan secara sosial. Hal ini akan meningkatkan efisiensi alokatif dalam perekonomian.

Dalam perekonomian yang tidak memiliki mekanisme transfer pendapatan dan sebagian besar penduduknya adalah miskin, maka kebutuhan riil masyarakat sering tidak tercermin dalam permintaan pasar. Barang dan jasa yang amat dibutuhkan rakyat banyak, seperti pangan, papan, air bersih, kesehatan dan pendidikan, seringkali tidak diproduksi. Dengan instrument filantropi yang mentransfer pendapatan orang kaya ke orang miskin, maka permintaan barang dan jasa orang miskin akan meningkat. Dalam konteks ini kita dapat memandang fungsi alokatif filantropi Islam yang me-realokasi sumber daya dari orang kaya ke orang miskin ini, sebagai cara yang efektif untuk memerangi kemiskinan.

Di Indonesia, potensi filantropi Islam yang sangat besar, belum mampu mengangkat kelompok miskin keluar dari jurang kemiskinan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perilaku penderma yang masih amat karikatif, yaitu berorientasi jangka pendek, de-sentralistis dan interpersonal. Filantropi sering dilakukan dalam bentuk konsumtif, dilakukan secara individual, dan tidak terorganisir.

Dibutuhkan upaya revitalisasi dengan menggugah kesadaran dan sekaligus merubah perilaku penderma. Menggugah kesadaran ummat sangat penting karena sampai kini terdapat kesenjangan yang besar antara potensi dengan realisasi dana filantropi Islam. Selain itu dibutuhkan rekontruksi paradigma sedekah dari sedekah personal-jangka pendek yang bersifat karikatif menjadi sedekah institusional- jangka panjang yang lebih bersifat pemberdayaan. Upaya penting lainnya adalah meningkatkan kapasitas lembaga amil dan pengelola dana filantropi Islam. Selain untuk meningkatkan efektifititas pendayagunaan dana filantropi Islam, hal ini juga penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola dana filantropi.



IPTEK dan Produktivitas

Salah satu aktivitas lain yang banyak dianjurkan di bulan Ramadhan adalah aktivitas menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat. Ramadhan adalah momentum bagi umat Islam untuk memperdalam ilmu, menyebarluaskan- nya dan mengembangkan- nya. Hal ini sangat relevan di tengah kecenderungan perekonomian yang saat ini semakin bergeser ke keunggulan berbasis pengetahuan (knowledge economy).

Ilmu dan teknologi adalah satu-satunya sumber produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Perekonomian- perekonomian maju umumnya tumbuh tinggi dan berkesinambungan dengan membuat teknologi berkembang secara built-in dan sistemik dalam perekonomian (endogenous growth). Hal ini dilakukan antara lain melalui pengembangan sektor pendidikan, belanja R & D yang memadai, penghargaan dan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, link and match antara pendidikan, riset dan industri, dan lain-lain.

Romer (1993) memperluas definisi teknologi menjadi apa yang ia sebut sebagai “ideas”. Teknologi seringkali kita bayangkan dengan manufaktur, padahal kebanyakan aktivitas ekonomi terjadi di luar pabrik-pabrik. Ide-ide (ideas) mencakup perspektif tak terbatas tentang pengemasan barang, pemasaran, distribusi, pengawasan persediaan barang, sistem pembayaran, sistem informasi, proses transaksi, pengawasan kualitas, dan memotivasi pekerja, semuanya digunakan dalam proses produksi untuk menciptakan nilai ekonomi dalam perekonomian modern.

Pengembangan ilmu agama juga berpengaruh signifikan bagi perekonomian. Peningkatan iman dan taqwa, sebagai hasil menuntut ilmu agama, akan memberi dampak signifikan terhadap hakikat, kuantitas, dan kualitas kebutuhan material dan non-material manusia beserta cara pemuasannya. Iman dan taqwa juga berfungsi sebagai filter moral yang akan mengkontrol self-interest dalam batas-batas social-interest. Filter iman dan taqwa ini menyerang langsung pusat masalah dalam perekonomian konvensional yaitu klaim yang tidak terbatas terhadap sumber daya (unlimited wants) dengan cara mengubah perilaku manusia dan skala preferensi-nya agar selaras dengan tujuan-tujuan normatif perekonomian. Pemahaman yang lebih baik terhadap nilai dan ajaran agama juga akan berpengaruh signifikan terhadap variabel-variabel ekonomi yang penting seperti konsumsi, tabungan dan investasi, lapangan kerja dan produksi, serta distribusi pendapatan.

Dengan demikian, Ramadhan semestinya menjadi ajang evaluasi sektor pendidikan dan riset kita. Sudah saatnya negeri ini memiliki sistem pendidikan agama dan umum yang terintegrasi, penghargaan terhadap hasil karya teknologi anak bangsa, keterkaitan yang erat antara riset dan industri, dan strategi penguasaan teknologi yang jelas menuju industri nasional yang tangguh dan mandiri. Hanya dengan demikian, produktivitas perekonomian meningkat dan pertumbuhan akan berkelanjutan.



Koran Tempo, Selasa, 25 Agustus 2009

ekonomi-syariah@yahoogroups.com