Pengumuman

Untuk memudahkan bagi anda yang membutuhkan jurnal/buku/procedding Ekonomi Syariah, berbentuk pdf, bisa menghubungi Perpustakaan STIE Bisnis Indonesia (STIE BI) Ciputat, Telp. 021-7423390, 7423391 Ext. 101, email:stiebiciputat@yahoo.co.id, dengan Okta/Siti

Minggu, 16 November 2008

Review Paper : A Qur’anic Methodology of Socio- scientific Investigation


Penulis: Dr. Masudul Alam Choudhury (Profesor of Economics, Cape Breton University and International Chair Postgraduate Program in Islamic Economics and Finance Trisakti University Jakarta, Indonesia)

1. Inti dan topik Permasalahan
Makalah ini membahas epistemology, ontology dan Ontic ilmu pengetahuan menurut Al Qur’an dan Sunnah, yaitu Karena kebenaran bersumber dari Allah, maka epistemology ilmu pengetahuan adalah harus bersumber pula hanya dari Allah (tauhid), dengan Al Qur’an dan Sunnah Shahih Rasulullah sebagai ontology-nya, kemudian terefleksi dalam realisasi riil kehidupan (ontic).

Al Qur’an membentuk tiga tingkatan metodologi sebagai bentuk implementasi tauhid yaitu; pertama, proses yang dinamakan dari tauhid ke tauhid. Ilmu pengetahuan berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, harus terdapat proses induksi nilai-nilai tauhid ke dalam ontic. Kedua, ekternalisasi epistemology tauhid ke dalam domain ontology dan ontic. Dan ketiga, kebenaran hanya bersumber dari Allah dan dari selain itu hanyalah kesalahan atau kekeliruan.

2. Garis Besar isu yang dibahas

Tauhid, Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan
Al Qur’an memandu mukminin untuk memahami dan mengaplikasikan ajaran Kesatuan (Tauhid) yaitu bahwa Allah, Tuhan semesta alam adalah esa dan kebenaran adalah bersumber hanya dari Allah. Seperti terlihat dalam beberapa yat berikut ini:

QS 57:3
 •         
3. Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin ; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

QS 26: 192-194
               
192. Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),
194. Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,

QS 56:95
•     
95. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.

Dari hal tsb dapat dikatakan bahwa Al Qur’an membentuk suatu metodologi pengetahuan yang terpusat bersumber dari Allah, bersumber pada ajaran tauhid. Melalui pendekatan metodologi ini, ajaran tauhid termanifestasi dalam bentuk panduan hidup komprehensif (diin) yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Pada level primordial, kebenaran hukum dari Allah termanifestasi dalam kebenaran hukum alam universal (sunatullah). Hanya jalan kebenaran dari Allah yang harus diikuti manusia, jalan kebenaran yang disebut sirat al mustaqim.

Karena kebenaran bersumber dari Allah, maka epistemology ilmu pengetahuan adalah harus bersumber pula hanya dari Allah (tauhid), dengan Al Qur’an dan Sunnah Shahih Rasulullah sebagai ontology-nya, kemudian terefleksi dalam realisasi riil kehidupan (ontic). Namun demikian karena ilmu terus berkembang secara dinamis dan semakin kompleks, Al Qur’an memerintahkan manusia untuk berefleksi, berpedoman pada ajaran Allah melalui Al Qur’an dan Sunnah Shahih untuk menemukan jawaban-jawaban atas hal-hal tsb. Sehingga pengetahuan manusia adalah pengetahuan yang melekat pada nilai kesatuan (tauhid) yang terus berkembang berdasarkan siklus interaktif proses pembelajaran antara epistemology, ontology dan ontic.

Hukum Allah adalah bersifat tetap atau permanen namun menjadi bersifat kompleks pada penerapannya pada tingkatan ontic di tata kehidupan dunia. Meskipun mungkin terjadi perbedaan-perbedaan di level ontic ini, namun kesemuanya tetap haruslah merupakan satu kesatuan yang pada akhirnya bermuara pada kebenaran hukum Allah.

Dalam QS. 3:190-191,
       •                         • 
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.


manusia diperintahkan melakukan refleksi, hal ini menunjukkan dengan jelas bagaimana observasi reflektif (tafakkur) adalah merupakan suatu bentuk metodologi yang tidak dapat lepas dari epistemology Ketuhanan, epistemology tauhid. Dalam observasi reflektifnya manusia diperintahkan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, melakukan induksi nilai-nilai moral agama dalam setiap aspek kehidupannya, hal ini lah yang dinamakan Qur’anic Empirism, empirisme yang tidak sama dengan versi Roger Bacon ataupun Rene Descartes, empirisme yang dibangun atas dasar persepsi logika manusia.

QS: 16:48-50
        •                                 
48. Dan Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam Keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri?
49. Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.
50. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).

Hukum-hukum Allah, aturan-aturan Allah ada dan meliputi segala sesuatu dan merupakan satu kesatuan. Segala sesuatu saling melengkapi, saling terkait dalam bingkai nilai kesatuan.

Al Qur’an membentuk tiga tingkatan metodologi sebagai bentuk implementasi tauhid yaitu; pertama, proses yang dinamakan dari tauhid ke tauhid. Ilmu pengetahuan berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, harus terdapat proses induksi nilai-nilai tauhid ke dalam ontic. Kedua, ekternalisasi epistemology tauhid ke dalam domain ontology dan ontic. Dan ketiga, kebenaran hanya bersumber dari Allah dan dari selain itu hanyalah kesalahan atau kekeliruan.

Hal penting lain yang juga berkaitan dengan keyakinan terhadap tauhid adalah konsep mengenai kehidupan akhirat. Kehidupan manusia di dunia adalah fana belaka, tujuan hidup manusia dan segala hal termasuk ilmu pengetahuan haruslah berorientasi pada tujuan jangka panjang yaitu akhirat.

Keterpisahan dari Prinsip Kesatuan Para Penganut Faham Rasionalisme
Rasionalisme tumbuh sebagai sebuah faham filsafat dimasa klasik skolastik baik di dunia Islam maupun Barat yang bersumber dari pemikiran Yunani. Kant misalnya, menyatakan Tuhan memang ada namun hanya memiliki kekuasaan di alam metafisik, Tuhan tidak dapat dijelaskan di realitas fisik dan fenomena saintis hanya diungkapkan berdasarkan fakta dan pengalaman.

Akibatnya faham rasionalisme atau occidentalisme ini tidaklah dapat menerima prinsip kesatuan, terdapat kesenjangan antara moral-etis dengan realitas yang terjadi, menciptakan dikotomi antara normatif dan positif, induktif dan deduktif. Padahal apalah artinya terdapat nilai-nilai normatif, jika realitas adalah berbeda dalam nilai-nilai yang disebut nilai-nilai positif. Ilmu terlepas dari nilai-nilai moral termasuk agama.

Kontinuitas Sebagai Bentuk Interaksi Induktif-Deduktif dalam Pandangan Al Qur’an
Al Qur’an memerintahkan manusia untuk beriman dan berfikir, percaya terhadap hal-hal gaib yang tak kasat mata dan melakukan pencarian dengan eksperimen, obsevasi empiris. Kedua domain ini tak terpisahkan dan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Beriman dan memperhatikan, membuktikan tanda-tanda kekuasaan Allah di satu sisi, dan di sisi lain melakukan observasi, menemukan sendiri kebenaran yang semakin meneguhkan keimanannya kepada Allah, induktif-deduktif saling terkait dan berkesinambungan saling menguatkan.

Hukum-hukum Al Qur’an sebagai acuan berperan sebagai petunjuk kehidupan manusia. Maka tak ada dikotomi antara nilai-nilai normatif dan positif dalam pandangan Islam, seperti ditegaskan Allah bahwa Al Qur’an adalah huda (petunjuk) lil mutaqqin (bagi orang-orang yang beriman). Inilah metodologi Al Qur’an, berasal dari Allah untuk diimplementasikan ke dalam setiap aspek pemikiran dan perbuatan manusia

3. Teori atau “State of the art” nya
Islam adalah petunjuk menyeluruh bagi kehidupan manusia, Konsep tertinggi Islam adalah Tauhid dengan sumber hukum adalah Al Qur’an dan Sunnah Shahih Rasulullah, keduanya adalah acuan juga panduan bagi manusia dalam berpikir dan berperilaku. Demikian pula dalam kerangka metodologi keilmuan, kebenaran dari Allah (epistemologi), petunjuk melalui Al Qur’an dan Sunnah (ontologi) untuk direalisasikan secara kongkrit di dataran praktis (ontic).

‘shuratic proces’, yaitu musyawarah dalam suatu majelis syura, dan dengan tetap berpegang pada al Qur’an dan sunnah dilakukan ijtihad, merupakan jawaban Al Qur’an terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dan berkembang

4. Kesimpulan
Metodologi Al-Qur’an adalah sebuah metodologi yang didasari konsep tauhid yang bersifat interaktif artinya dengan memperhitungkan saling keterkaitan antara berbagai faktor, juga bersifat integral, menyeluruh melingkupi semua hal dan bergerak dinamis evolusioner.

Bersama-sama dengan konsep yang dinamakan ‘shuratic proces’, yaitu musyawarah dalam suatu majelis syura, dan dengan tetap berpegang pada al Qur’an dan sunnah dilakukan ijtihad, merupakan jawaban Al Qur’an terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dan berkembang.

Islam adalah petunjuk menyeluruh bagi kehidupan manusia, Konsep tertinggi Islam adalah Tauhid dengan sumber hukum adalah Al Qur’an dan Sunnah Shahih Rasulullah, keduanya adalah acuan juga panduan bagi manusia dalam berpikir dan berperilaku. Demikian pula dalam kerangka metodologi keilmuan, kebenaran dari Allah (epistemologi), petunjuk melalui Al Qur’an dan Sunnah (ontologi) untuk direalisasikan secara kongkrit di dataran praktis (ontic).

Aspek sejarah, cerita orang-orang terdahulu dan para nabi yang diutus adalah merupakan medium ontologi, bagaimana ilmu Allah diwahyukan, sebagai petunjuk untuk membedakan antara kebenaran dan kesesatan, pemecahan bagi masalah-masalah yang ada pada saat itu, merupakan ontic di masa itu.

Metodologi Al Qur’an adalah metodelogi yang bersifat transenden. Segala hal yang bukan datang dari Allah, tidak bersumber dari Allah adalah kekeliruan. Pandangan pluralisme dan berbagai aspek yang dimilikinya termasuk rasionalisme adalah kekeliruan. Metodologi ini merupakan metologi yang integral, satu kesatuan antara konsep tauhid dan konsep tentang kehidupan akhirat, kehidupan kekal yang menjadi tujuan hidup manusia di mana setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan dan menerima balasan yang seadil-adilnya.

5. Komentar, kritik dan saran
Prof Choudhury menawarkan metodologi ilmu pengetahuan, yang mendasari semua ilmu pengetahuan tersebut berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagai muslim kita meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Al-qur’an pasti kebenarannya, sehingga bisa dijadikan rujukan utama kebenaran hakiki. Ini berarti segala sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an atau sesuai dengan Al-Qur’an mutlak kebenarannya.
Dengan konsep ini ilmuan Islam seharusnya menjadikan Al-Qur’an sebagai standar kebenaran ilmiah. Sehingga semua hasil penelitian ilmiah para ilmuan akan memberikan mamfaat dan keberkahan kepada ummat manusia, bukan sebaliknya.

6. Metode Penelitian dalam ekonomi dan Keuangan Islam
Dari paper ini menginspirasi bahwa metode penelitian ekonomi dan Keuangan Islam seharusnya , bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, artinya pengkajian yang paling mendalam dilakukan dari Al-qur’an dan Sunnah, ketika seorang ilmuan ekonomi dan keuangan islam mengkaji suatu ayat tentang riba misalnya, didasari oleh ayat al qur’an tersebut maka diketahui fakta-fakta kerusakan riba.

Dengan demikian kedepan, idealnya ekonom syariah, diberikan bekal pemahaman yang baik dan mendalam tentang ayat-ayat al qur’an dan hadist, melakukan pengkajian yang mendalam tentang ayat al qur’an dan hadist, termasuk kemampuan menghapal Al-qur’an dan hadist dan bisa berbahasa arab. Dan diikuti pula dengan pemahaman yang mendalam tentang ekonomi dan keuangan modern.

Dengan model seperti ini, diharapkan akan muncul penelitian-penelitian yang mendalam, baik membuktikan nilai-nilai al qur’an dan hadist, maupun menemukan fakta ekonomi dan keuangan syariah yang pada akhirnya sebenarnya sudah dijelaskan dalam al qur’an dan hadist.

Reviewer : Jaharuddin (Mahasiswa IEF Universitas Trisakti)

Tidak ada komentar: