Pengumuman

Untuk memudahkan bagi anda yang membutuhkan jurnal/buku/procedding Ekonomi Syariah, berbentuk pdf, bisa menghubungi Perpustakaan STIE Bisnis Indonesia (STIE BI) Ciputat, Telp. 021-7423390, 7423391 Ext. 101, email:stiebiciputat@yahoo.co.id, dengan Okta/Siti

Kamis, 26 Juni 2008

SISTEMATIKA PEMBANGUNAN RASULULLAH, Suatu Kajian Historis, Bagian 1

Oleh: Jaharuddin

Pengantar
Kita menyadari bahwa prilaku ekonomi telah ada sebelum Muhammad menjadi Rasulullah, ini berarti perilaku ekonomi telah ada semenjak nabi-nabi sebelumnya, dengan demikian sejarah ekonomi silam sebenarnya telah lama ada , dan ekonomi hari ini pun ada merupakan mata rantai dari prilaku ekonomi yang telah ada sebelum jauh Adam Smith, membuat philosophy-philosophy ekonomi klasik, namun pada pembahasan ini, penulis akan menelusuri dari bahan-bahan yang dimiliki seperti apa perilaku ekonomi di zaman Rasulullah, yang pada akhirnya nanti akan memperlihatkan sempurnanya islam dan ternyata islam mempunyai koridor-koridor tersendiri tentang ekonomi, yang diilhami dari Kitabullah dan Hadist Nabi Muhammad SAW.
Mengapa penulis mengambil perioderisasi zaman Rasulullah SAW, karena penulis mempunyai keyakinan ketika Rasulullah lah konsep-konsep ekonomi tersebut di matangkan dalam bentuk ejawantah operasional dan kita ketahui bersama ummat islam dan Non islampun mengakui keberadaan peradaban Madani di kota Madinah sampai hari ini merupakan peradaban terbaik yang pernah ada.
Dengan demikian akan sangat menarik bagi kita semua untuk menulusuri sejauh mana pemikiran ekonomi telah dilaksanakan dengan baik, sehingga peradaban tersebut menjadi peradaban terbaik dari segala dimensi.

Bagaimana Rasulullah membangun Peradaban terbaik dalam sejarah
Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas, karena ketika hampir semua orang tidak percaya lagi dengan konsep ekonomi dan pembangunan yang selama ini ada, bahkan sebagian ekonom lagi mencoba melihat apakah sistem ekonomi islam mampu mengisi kekosongan sistem yang menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul akibat pembangunan ekonomi yang tiada arah pada dekade sebelumnya.
Kita menyaksikan ekonomi sosialis/komunis telah mengakhiri sejarahnya dengan runtuhnya Uni Soviet yang dilanjutkan anaknya Rusia yang sampai saat ini belum mampu keluar dari kesulitan ekonomi, bahkan dari hari kehari kita malah menyaksikan terpecah belahnya negara bekas adikuasa tersebut menjadi puluhan negara baru, ini merupakan bukti bahwa sistem yang selama ini mereka anut tidak mempunyai fondasi yang kokoh yang mampu menyelamatkan kehancuran Uni Soviet dan Rusia, disisi lain kita menyaksikan “Globo Cop” Amerika, Amerika sebagai Bapaknya Ekonomi Liberal sampai saat ini belum mampu memberikan pemerataan ekonomi yang baik diantara semua strata social masyarakat, malah yang terjadi penumpukan Kapital pada beberapa gelintir orang yang kebetulan mendapat jaminan dan kemudahan dari penguasa yang berkuasa saat itu, Amerika Sekarang di “stir” oleh pemilik modal di negara tersebut, yang terpusat pada segolongan yahudi yang kebetulan mampu mengendalikan calon penguasa dan pengusaha yang sedang berkuasa.
Begitu pula dengan Mixed Economy yang banyak dianut oleh negara-negara yang sedang berkembang di Asia dan Afrika, sampai saat inipun tidak mampu mempertahankan identitas mereka sebagai negara yang menganut Sistem ekonomi campuran, terutama pasca tumbangnya Uni Soviet yang menyebabkan Amerika menjadi satu-satunya penguasa dan mampu mempengaruhi arah perekonomian dunia, termasuk sistem ekonominya.
Kita melihat hampir semua negara yang dulunya closed dan cendrung sosialis sekarang telah mampu di buka pasarnya lebar-lebar oleh Amerika melalui lembaga-lembaga yang dikendalikannya, begitu pula negara-negara berkembang lainnya sampai saat inipun belum mampu beranjak jauh melejit dalam pembangunan ekonominya dengan sistem ekonomi campuran yang mereka anut, maka dapat diambil hipotesa bahwa ketiga sistem perekonomian tersebut belum mampu mengangkat ekonomi dan kemanusian sebagai mana pernah ada di zaman Rasulullah SAW.

Pembangunan yang dilakukan Rasulullah
Pembangunan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, tidak terlepas dari apa yang pernah dilakukannya melalui tuntunan Allah SWT selama di kota Makkah sebelumnya yang didasari oleh adat dan seperangkat nilai yang dianut oleh bangsa arab pada waktu itu, yaitu (1). Suatu sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh adat istiadat bangsa arab yang gemar berdagang. (2). Suatu sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh seperangkat nilai islami [1] , untuk membatasi permasalahan pada tulisan ini maka penulis akan melihat sistematika pembangunan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW melalui pentahapan sebagai berikut :

Bai’at Aqabah Pertama
Menurut Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury[2] terdapat 12 orang yang melakukan bai’at Aqabah pertama di Mina Makkah, dengan menyepakati hal-hal sebagai berikut :
“Kemarilah dan berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik, Barang siapa diantara kalian menepatinya, maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka ini merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka ini merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah, Jika menghendaki dai menyiksanya dan jika menghendaki dia akan mengampuninya.[3]
Dapat dilihat bahwa bai’at aqabah pertama ini lebih pada peletakan batu dasar pemahaman aqidah yang mantap, dikalangan penduduk Madinah yang sengaja di dakwahi oleh Rasulullah, dimana pada masanya nanti orang-orang ini pulalah yang menjadi pioner ditetapkannya kota Madinah sebagai tempat Hijrah, setelah disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi kota tempat dibentuknya pemerintahan Rasulullah yang pertama.

Bai’at Aqabah Kedua
Bai’at Aqabah kedua di adakan pada musim haji tahun ketiga belas dari Nubuwah, tepatnya pada juni 622 M, lebih dari 70 muslimin penduduk Yastrib (Madinah) datang kekota Makkah untuk melaksanakan manasik haji dari kaumnya yang masih musyrik, Klausul bai’at aqabah kedua ini adalah sebagai berikut[4] :
Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas
Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah
Untuk menyuruh kepada yang ma’aruf dan mencegah dari yang mungkar
Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela Karen allah
Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga

Dalam riwayat Ka’ab sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu ishaq tentang klausul yang terakhir, didalamnya juga disebutkan “Lalu Rasulullah SAW berbicara, membaca Al-Qur’an, berdo’a kepada Allah dan menyebutkan harapannya untuk islam, kemudian beliau bersabda” “Aku membai’at kalian, agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak-anak kalian”
Dari klausul bai’at aqabah kedua ini memperlihatkan bahwa masih menekankan pada pemantapan aqidah, namun ada kemajuan yaitu permintaan Rasulullah untuk mempunyai loyalitas dalam memperjuangkan islam, dengan segala kondisi yang kemungkinan bisa menimpa mereka. Ini merupakan modal besar yang telah dilakukan Rasulullah dalam memantapkan aqidah ummatnya yang dibelakang hari menjadi pioneer umat terdahulu.
[1] Bahan Kuliah SPEI Pasca sarjana Ekonomi dan Keuangan syariah, angkatan ke 3
[2] Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury , Sirah Nabawiyah, Maret 2003, hal 199
[3] Diriwayatkan Al-Bukhary dari Ubadah bin Ash-Shamit, dalam Sirah Nabawiyah , Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury hal …
[4] Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari jabir, dalam Sirah Nabawiyah Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury, hal 206-207

Tidak ada komentar: