Selasa, 01 Juli 2008

Agen Asuransi Syariah Perlu Disertifikasi

JAKARTA -- Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menilai pentingnya sertifikasi bagi agen asuransi syariah agar dapat mendorong strategi promosi dan penjualan yang sesuai dengan prinsip syariah.

Selain itu, sertifikasi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemasaran agen asuransi syariah sehingga mendorong perkembangan asuransi syariah di Indonesia.
Pendapat itu disampaikan Ketua Umum AASI Muhaimin Iqbal, Rabu (20/6). Agen pemasaran polis asuransi syariah berhubungan langsung dengan calon pemegang polis. Karena itu, pola pemasaran yang mereka lakukan sangat berkaitan erat dengan citra dan performa industri asuransi syariah. ''Sertifikasi menjadi penting untuk memastikan masyarakat betul terlayani dengan baik. Terutama dari sisi pemasarannya, baik dari informasi yang diberikan mengenai produk maupun tata cara pemasaran yang sesuai syariah,'' katanya.
Menurut Iqbal, saat ini terdapat ribuan agen penjual polis asuransi syariah. Bila satu perusahaan atau divisi asuransi syariah memiliki sekitar 500 agen, maka 20 perusahaan atau divisi tersebut diprediksi memiliki sebanyak 10 ribu agen. ''Saya tidak tahu data pastinya. Tapi yang jelas bila satu perusahaan punya 500 agen, 20 perusahaan bisa 10 ribu agen. Ini kan jumlah yang banyak. Karena itu, perlu disertifikasi,'' kata pria yang juga Direktur Utama Asuransi Bintang ini.
Saat ini, AASI tengah mempersiapkan program sertifikasi bagi ribuan agen tersebut. AASI menargetkan hingga akhir tahun paling sedikit mengadakan satu program sertifikasi. Program tersebut diharapkan dapat diikuti sekitar dua ribu agen. ''Yang jelas sebelum akhir tahun. Mengenai jumlah pesertanys ditargetkan antara seribu hingga 20 ribu agen,'' katanya.
Rencana penyelenggaraan program sertifikasi agen juga dipicu cukup banyaknya permintaan perusahaan. Hal tersebut menunjukkan adanya kesadaran dari kalangan industri asuransi syariah mengenai pentingnya program sertifikasi agen penjual polis syariah. ''Banyak yang minta agar agen mereka disertifikasi,'' katanya.
Menurut Iqbal dari total 1-2 ribu peserta tersebut, kemungkinan agen peserta dari asuransi jiwa syariah lebih banyak dibandingkan agen peserta asuransi umum syariah karena perusahaan atau divisi asuransi jiwa syariah lebih banyak. Selain itu, karena lebih berbasis retail dan manusia sebagai pemegang polis, asuransi jiwa lebih banyak memiliki agen dibandingkan asuransi umum.
Direktur Pemasaran PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) Agus Edi Sumanto membenarkan pentingnya sertifikasi agen penjual polis asuransi syariah. Hal tersebut agar tata cara penjualan tidak bertentangan dengan prinsip asuransi syariah. ''Itu penting sekali karena memang ini bisnis asuransi syariah dan harus dipasarkan dengan cara syariah juga. Ide ini saya juga ikut menggagas,'' kata pria yang juga Sekjen AASI tersebut.
ATK siap ikutserta
Agus menyebutkan, saat ini, ATK memiliki sekitar 1.600 agen penjual polis asuransi syariah. Rencananya, mereka akan ikut serta dalam program sertifikasi tersebut. Diharapkan dapat mendorong perkembangan bisnis asuransi syariah ATK. ''Kami punya sekitar 1.600 agen. Kami siap untuk mengikutsertakan mereka dalam program sertifikasi,'' katanya.
Agus juga mendorong agar program sertifikasi agen juga diikuti seluruh perusahaan asuransi syariah termasuk divisi syariah perusahaan asuransi konvensional. Sebabnya, dengan sertifikasi tersebut, agen penjual polis asuransi syariah diharapkan dapat menjual dengan tata cara syariah sehingga mendorong penjualan. Dengan demikian, industri asuransi syariah akan berkembang lebih pesat.
Iqbal sebelumnya menyebutkan, berdasarkan data AASI per Mei lalu, terdapat sekitar 39 perusahaan asuransi syariah di Indonesia saat ini. Dari jumlah tersebut, perusahaan atau divisi asuransi jiwa syariah terdapat 15 buah. Sisanya merupakan asuransi kerugian syariah. Republika. Kamis, 21 Juni 2007

Tidak ada komentar: